My Galery

WELCOME MY BLOGER . vickybabel10.blogspot.com. DRILLING. RECORDING. HSE. TOPOGRAFI. FREELOADING. CLEARING / BRIDGING. SEISMIC SURVEY ACQUISITION
Showing posts with label RECORDING. Show all posts
Showing posts with label RECORDING. Show all posts

Friday, March 8, 2013

RECORDING

Penyimpanan data dilakukan pada dua buah tape. Perekaman tape menggunakan Cartridge Drive yang terhubung dengan Processing Module (PRM). Pada Cartridge Drive tersebut terdapat dua buah device, dimana masing-masing device untuk merekam pada satu tape.
Sebelum perekaman dilakukan, harus ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya adalah:
1. Cartridge Drive sudah dibersihkan dengan menggunakan cleaner sehingga tidak terjadi kegagalan dalam perekaman karena Cartridge Drive kotor.
2. Tape yang akan direkam sudah dimasukkan ke dalam Cartridge Drive dan dalam keadaan Ready.
3. Pengaturan Recorder pada posisi Data.
4. Memeriksa apakah nomor tape dan Record Number sudah sesuai.
5. Setelah penembakan harus diperhatikan indikator Recorder apakah perekaman dapat berlangsung dengan baik atau tidak.

Tampilan menu Records Setup

Dengan menggunakan Record Setup kita dapat mengatur Record Number dan Test Record Number, nomor tape, dan juga jumlah file maksimum dalam setiap tape. Test Record Number digunakan untuk penomoran file Instrument Test. Apabila kita memasukkan angka 202 pada Record Number, maka file pertama akan memiliki nomor 202 dan file berikutnya akan secara otomatis naik satu nilai menjadi 203 dan begitu seterusnya, begitu juga halnya dengan Test Record Number. Setiap harinya Test Record Number akan dimulai dengan angka 9001. Namun pada Record Number akan melanjutkan angka pada hari sebelumnya.
Panel Recorder digunakan untuk mengontrol perekaman. Untuk dapat merekam pada tape, kita harus memilih pilihan “Record on Tape” pada panel Install. Dengan menekan “MANUAL” maka akan mengaktifkan tombol kontrol (INIT, EOF, AGAIN, dan PLAYBACK) dan akan mengisolasi tahap recorder pada 408XL. Maka akuisisi data akan tertahan sampai Recorder dipindahkan ke posisi AUTO kembali.

Tampilan window Recorder

Dengan memilih “AUTO” akan menghubungkan recorder stage ke stage sebelumnya pada 408XL. SCSI bus dapat dihubungkan sampai dengan empat buah recorder. Ketika sebuah recorder terhubungkan dengan bus dan dihidupkan, sebuah lampu indikator akan muncul pada panel “Device”. Lampu indikatornya ialah:
- Lampu indikator tidak muncul: hal ini mengindikasikan kalau recorder tidak terhubungkan atau belum dinyalakan.
- Lampu indikator merah: hal ini mengindikasikan recorder sudah terhubungkan dan sudah dinyalakan, tetapi cartridge belum dimasukkan.
- Lampu indikator jingga: hal ini mengindikasikan recorder sudah terhubungkan dan sudah dinyalakan, dan cartridge sudahdimasukkan.
- Lampu indikator hijau: hal ini mengindikasikan recorder sudah terhubungkan dan sudah dinyalakan, cartridge sudahdimasukkan, dan sedang digunakan untuk perekaman.
Ketika kita memilih ”MANUAL” maka pengoperasian secara manual seperti EOF, AGAIN, dan PLAYBACK akan aktif.
1. EOF
Dengan memilih tombol ini maka akan menyebabkan End of File kedua yang akan ditulis setelah file terakhir. Sebuah EOF akan secara otomatis tertulis pada akhir setiap record. EOF yang kedua diinterpretasikan sebagai akhir dari tape. Hal ini akan menyebabkan file count berubah kembali menjadi 0.
End of Tape juga akan secara otomatis muncul apabila jumlah file yang terekam pada tape sudah mencapai batas maksimum yang telah ditentukan.

2. AGAIN
Dengan memilih tombol ini akan menyebabkan record yang sama akan ditulis kembali ke tape yang baru, contohnya ketika terjadi kegagalan untuk menulis record secara keseluruhan.
Ketika tombol “DATA” aktif, dengan menekan tombol AGAIN akan menyebabkan record akan ditulis kembali ke dalam tape. Tetapi dengan tombol “TBP” yang aktif, maka dengan menekan tombol AGAIN akan menyebabkan record di-playback pada monitor record. Dengan tombol “File” yang aktif, dengan menekan tombol “AGAIN” akan membuka MEDIA VIEW yang menampilkan disk space yang tersedia, dan menampilkan nama dan ukuran file yang sudah disimpan.

3. PLAYBACK
Dengan menekan tombol PLAYBACK akan menampilkan sebuah kotak dialog yang memungkinkan kita untuk memilih jenis Playback yang kita inginkan.

Tampilan menu Playback pada window Recorder

Tipe-tipe dari Playback yang tersedia adalah:

1. Last Record
Digunakan untuk melakukan playback pada record yang sebelumnya. Tape akan mencari header dengan Record Number yang sesuai dengan Record Number dari file terakhir yang direkam. Last Record juga berfungsi untuk memposisikan record terakhir pada akhir dari tape.

2. Next Record
Next Record digunakan untuk melakukan playback pada record berikutnya.

3. Forward
Forward digunakan untuk melakukan playback terhadap record yang berada setelah posisi di tape pada saat itu.

4. Backward
Sedangkan Backward digunakan untuk melakukan playback terhadap record yang berada di posisi sebelumnya.

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah pengemasan tape hasil perekaman yang ingin dibawa ke Basecamp. Setiap tape harus diberikan identitas seperti nomor tape, tanggal perekaman, dan Record Number pada tape. Tape sangat rentan terhadap medan magnet. Apabila tape terkena medan magnet yang cukup besar maka data yang berada pada tape dapat rusak, sehingga tape harus dilindungi dari medan magnet. Tape hasil perekaman harus dibungkus dengan alumunium foil agar tidak dapat ditembus oleh medan magnet. Kendaraan yang membawa tape tidak diperbolehkan menyalakan radio karena akan speaker yang menyala akan menghasilkan medan magnet. Tape juga harus dihindarkan dari medan magnet lainnya seperti radio HT.

RECORDING

Cek lintasan dilakukan sebelum dilakukan perekaman. Cek lintasan dilakukan untuk memeriksa kondisi kabel, FDU, geophone, LAUX, LAUL, dan baterai dil lintasan. Cek trace dilakukan di Labo, kemudian Labo mengintruksikan kepada observer line atau mandor telepon di lintasan untuk melakukan trouble shooting sesuai dengan analisa yang dilakukan di Labo.
Di labo, cek lintasan dilakukan dengan menggunakan window Line pada software Solaris yang digunakan. Dengan menggunakan window Line kita dapat melihat kegagalan pada instrumen di lintasan, baik kabel, FDU, geophone, LAUX, LAUL, dan baterai. Kegagalan tersebut diindikasikan dengan warna merah pada lambang instrumen pada window Line. Kita juga dapat melihat nilai numeriknya.

Tampilan window Line

Keterangan:
(1) Tab untuk memilih tampilan yang diinginkan.
(2) Indikator warna merah akan muncul pada tab apabila terjadi kegagalan pada tampilan tersebut.
(3) Peinrtah untuk membuka sebuah clone dari window utama Line. Pada panel clone kita dapat memilih tampilan yang berbeda.
(4) Tombol ini digunakan untuk memilih tipe tes yang ingin dilaksanakan. Hasil tes dapat ditampilkan dengan menekan tombol GO.
(5) Tab untuk memilih tampilan grafik dan numerik.
(6) Tombol untuk mematikan dan menghidupkan power supply ke line.
(7) Menampilkan banyaknya elemen yang mengalami kegagalan, dan banyaknya elemen yang terdeteksi.
(8) Lokasi pointer mouse yang berada di panel grafik.
(9) Legenda: menampilkan batasan Quality Control yang telah diprogram sebelumnya. Pada tampilan grafik, elemen yang dites akan berwarna hijau jika elemen tersebut berada pada limitnya, dan akan menunjukkan warna merah atau biru apabila berada diluar limit yang telah ditentukan.
(10) Tombol zoom out yang akan menampilkan faktor zoom sebelumnya.
(11) Tombol view all yang akan menghilangkan zoom.

Terdapat tiga pilihan tampilan pada window Line, yaitu topographic view, numeric view, dan histogram view.

A. Topographic View

Tampilan window Line Topographic View

Pada tampilan Topographic kita dapat melihat hasil cek elemen di lintasan dalam bentuk grafik. Kita dapat memilih informasi yang akan ditampilkan, diantaranya adalah:
- informasi dari survei
- informasi unit-unit di lapangan
- informasi dari level noise
Dengan mengklik tombol GO pada tampilan Sensors dan Instrumen maka akan dilakukan tes QC yang dipilih pada unit yang telah dipilih. Apabila tidak ada unit yang dipilih, maka tes akan dilakukan pada seluruh survei. Hal ini akan menghapus hasil tes sebelumnya, dan unit-unit akan menampilkan warna biru sampai tes selesai dan hasil tes yang baru tersedia. Apabila kita melakukan tes dan terdapat unit yang berwarna abu-abu hal tersebut berarti unit tersebut sibuk. Apapun tampilan informasi yang ditampilkan, hasil tes yang lain hanya perlu dilakukan dengan satu kali klik.

1. Tampilan Sensors

Tampilan window Topographic View tab Sensor

Dari tampilan ini kita dapat melihat tipe dari sensor yang digunakan, dan hasil tes yang dilakukan dari seluruh survei yang digunakan. Pada partai ini tipe sensor yang digunakan hanya geophone. Jenis tes yang dapat dilakukan antara lain:

- Resistance :
Tes Resistance/hambatan dilakukan untuk melihat apakah hambatan geophone berada pada batas yang telah ditentukan. Batasan hambatan yang dapat ditoleransi adalah 1.200 – 1.800 Ohm. Apabila geophone masih dalam toleransi tersebut maka tampilan sensor akan berwarna hijau, apabila hal yang sebaliknya terjadi maka sensor akan berwarna merah.
Hambatan geophone dapat lebih kecil dari 1.200 Ohm akibat geophone tersebut terguncang akibat adanya aktivitas di sekitar geophone tersebut, atau dapat juga disebabkan karena terjadi short di goephone tersebut. Sedangkan hambatan geophone yang lebih besar dari 1.800 Ohm akibat terjadinya mati separuh/half dead pada geophone. Mati separuh tersebut dapat terjadi karena adanya open pada geophone.
Apabila terjadi kegagalan pada hambatan geophone maka solusi yang pertama dilakukan adalah melihat apakah ada aktivitas di lintasan tang menyebabkan geophone bergetar, apabila tidak ada maka langkah berikutnya adalah dengan mengganti geophone tersebut dengan yang baru.

- Tilt :
Tes Tilt dilakukan untuk melihat kualitas dari rojokan. Tes Tilt akan menunjukkan kegagalan apabila geophone dirojok tidak dengan posisi tegak. Geophone yang yang belum dirojok juga akan menunjukkan kegagalan pada tampilannya yang diindikasikan dengan warna merah.
Apabila terjadi kegagalan pada Tilt maka hal pertama hal pertama yang dilakukan adalah mencari informasi apakah geophone tersebut sudah dirojok atau belum, apabila geophone tersebut sudah dirojok tetapi masih menunjukkan kegagalan Tilt maka solusi berikutnya adalah dengan melakukan rojok ulang.

- Leakage :
Tes Leakage adalah untuk memeriksa apakah ada kebocoran arus pada geophone. Leakage dapat terjadi karena kabel geohone yang terkelupas atau casing geophone yang pecah. Kasus leakage lebih banyak terjadi pada lokasi yang berair. Leakage juga dapat terjadi apabila kepala take out geophone kotor. Leakage juga dapat terjadi apabila ada aktivitas dilapangan yang menyebabkan geophone bergetar.
Solusi pertama yang dilakukan apabila terjadi kasus leakage adalah dengan membersihkan take out geophone, apabila hal tersebut sudah dilakukan tetapi leakage masih terjadi maka harus dilakukan pergantian geophone. Kasus leakage dapat dikurangi dengan memastikan konektor antara take out geophone dengan FDU tidak basah, yaitu dengan menggantung FDU tersebut dan melindunginya agar tidak terkena tetesan air hujan.

2. Tampilan Seismonitor

Pada Seismonitor kita dapat melihat sinyal input dari sensor. Seismonitor menampilkan spread yang aktif :
- Sensor yang aktif muncul sebagai kotak-kotak berwarna hijau,
- Sensor yang mati muncul sebagai kotak-kotak berwarna merah,
- Sensor yang di-mute muncul sebagai kotak-kotak berwarna biru tua,
- Trace yang tidak ada sensor di tampilkan dengan tanda tambah berwarna kuning.

Tampilan window Topographic View tab Sensor

Ketika seismonitor diaktifkan, tampilan ini memungkinkan kita untuk memonitor real-time noise. Terdapat delapan tingkat besarnya noise pada setiap receiver dengan kenaikan sebesar 6 dB, tingkatan noise tersebut juga diwakilkan dengan tinggi dan warna (dari hijau sampai merah) tergantung pada gain yang dipilih pada seismonitor. Warna merah adalah tingkat skala tertinggi. Sedangkan warna hijau berarti tidak ada noise yang diterima oleh geophone.

Tampilan window seismonitor ketika penembakan

Dari seismonitor kita dapat melihat noise-noise yang terdeteksi oleh geophone. Dengan menggunakan gain 42 dB kita masih dapat melakukan penembakan walaupun masih terdapat noise yang berwarna putih (-30 dB) sampai noise yang berwarna kuning (-18 dB), hal tersebut dikarenakan getaran noise tersebut masih terlalu lemah dibandingkan dengan getaran seismik yang ingin diukur. Namun harus diperhatikan noise yang konstan, seperti noise akibat mesin, karena walaupun noise yang diterima kecil tetapi akan merusak data. Sedangkan noise yang disebabkan oleh tegangan tinggi, walaupun terekan, masih dapat dihilangkan dengan melakukan notch pada frekuensi tegangan tinggi tersebut (50 Hz di Indonesia).

3. Tampilan Instrument
Tampilan ini menunjukkan konektivitas dari instrumen di lapangan yang berada pada survei.

Tampilan window Topographic View tab Instrument

Dengan memilih tampilan Instrumen kita dapat melihat hasil dari self-test yang muncul pada panel grafik. Kode pewarnaannya adalah sebagai berikut :
- Hijau : Unit yang teridentifikasi dan hasil self-testnya benar
- Jingga : Unit yang teridentifikasi tetapi tidak ada self-test yang dilakukan, hal ini terjadi karena ada masalah dalam transmisi.
- Merah : Unit yang tidak dapat digunakan karena self-testnya mengalami kegagalan.

Pilihan tampilan pada window tab Instrument

Apabila terjadi bad auto test pada FDU maka harus dilakukan pergantian kabel link. Sebelum menggantinya kabel link maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mencek apakah kabel link penggantinya dalam kondisi bagus. Kabel link yang baru tersebut diperiksa dengan menyambungkannya pada line sehingga dapat dicek oleh Labo. Kabel tersebut disambungkan ke line sebelum dibentang atau masih dalam keadaan tergulung. Setelah dicek dan hasilnya bagus maka baru kemudian kabel link tersebut dibentang, disambungkan ke kabel berikutnya, dan menyambungkan take out geophonenya ke FDU. Kabel lama yang rusak dikeluarkan, diberikan pita merah dengan diberikan keterangan jenis kerusakan yang terjadi. Serial Number kabel link yang rusak tersebut dicatat, demikian juga dengan nomor FDU yang mengalami kerusakan. Hal tersebut untuk mempermudah proses perbaikan kabel link tersebut yang dikerjakan di gudang Labo.
Apabila terjadi Transmit Error pada kabel diantara FDU maka akan direpresentasikan pada panel Instrument dengan kabel penghubung antar FDU yang berwarna kuning. Transmit Error terjadi apabila kabel tidak dapat mentransfer data dengan baik. Apabila terjadi transmit error maka harus dilakukan pergantian kabel link. Apabila terjadi transmit error pada saat perekaman dapat menyebabkan Line Cut.

4. Tampilan Batteries
Tampilan ini menunjukkan tampilan power supply unit yang berada di dalam survey. Tombol di pojok atas kiri memungkinkan kita untuk menampilkan atau menyembunyikan beberapa elemen.
Kita dapat mengatur tegangan baterai minimum yang digunakan di Line dengan menggunakan Threshold. Apabila ada baterai yang berada di bawah batas minimum yang telah kita tentukan maka tampilan baterai akan berwarna merah. Baterai yang lemah harus dikeluarkan untuk diisi kembali. Pemasangan jumper baterai yang tidak bagus dapat menyebabkan tegangan baterai yang terukur menjadi lebih kecil dari tegangan baterai yang sebenarnya. Tegangan operasional LAUX dan LAUL adalah 10,5 – 15 Volt DC.

Tampilan window Topographic View tab Batteries
B. Numeric View

Pada tampilan numeric kita dapat melihat hasil tes yang diperoleh dalam bentuk numerik. Apabila ada sensor, FDU, atau baterai yang mempunyai karakteristik diluar yang telah ditentukan, maka nilai karakteristik sensor, FDU, dan baterai tersebut pada tabel akan mempunyai latar belakang warna merah. Kita juga mempunyai pilihan untuk hanya menampilkan yang memiliki kegagalan saja dengan memilih Only Error. Tipe data yang bisa dipilih adalah:

1. Sensors
Dari tipe data sensor kita dapat melihat beberapa informasi, diantaranya adalah serial number dari FDU tempat geophone dipasangkan, nomor lintasan, nomor trace, tipe sensor (pada proyek Elnusa A5.43 menggunakan geophone), besar hambatan geophone (Ohm), besarnya noise pada geophone (μV), nilai leakage geophone (MOhm), nilai tilt geophone (%).

Tampilan window Numeric View tab Sensor

2. Instruments
Dari tampilan ini kita bisa melihat nilai-nilai karakteristik dari FDU seperti Serial Number, nomor Line, nomor trace, status Auto Test, besarnya Distorsi (dB), Noise (μV), Common Mode Rejection Ratio (dB), Gain Error (%), dan Phase Error (μs).

Tampilan window Numeric View tab Instrument

3. History
Di History kita dapat melihat Serial Number, nomor Line, nomor trace dari instrumen (Control Module, FDU, LAUX, LAUL) dan juga tanggal beserta waktu alat-alat tersebut terlihat pertama dan terakhir kali pada survey.

Tampilan window Numeric View tab History

C. Histogram View

Kita dapat melihat hasil dari Sensor Tests dan Instrument Test dalam bentuk grafik pada panel utama Histogram View.

Tampilan window Historic View

RECORDING

Intrument Test dilakukan setiap hari sebelum perekaman dilakukan. Intrument Test dilakukan untuk memeriksa apakah FDU yang digunakan dalam kondisi bagus atau tidak. Semua FDU yang digunakan pada hari itu harus sudah menjalani Daily Instrument Test. Hasil Instrument Test pada panel Numeric disimpan sebagai bukti Instrument Test telah dilakukan.

Tampilan window Test Setup

Untuk melakukan Instrument Test posisi Tab harus berada pada posisi Instrument. Hasil tes akan keluar pada tampilan Numeric dan Graphic. Pada kotak Absolute Spread kita menspesifikasikan posisi line dan receiver yang ingin di tes. Kotak Aux Descr digunakan untuk mendeskripsikan auxiliary channels yang ingin di tes. Gain yang ingin digunakan pada Instrument Test dapat dipilih apakah menggunakan G1 atau G2. Record Length / panjang perekaman dapat dipilih dari 1 – 99,9 detik. Tetapi pada tes Instrument Crosstalk panjang perekaman minimum adalah 5 detik pada Sample Rate 2 ms. Pada Daily Instrument Test kita harus merekam datanya, sehingga posisi pada tombol pilihan Record adalah Yes.
Jenis-jenis tes yang dilakukan adalah:

1. Instrument Noise (µV)
Selama tes channel input di short dengan menggunakan resistor internal. Geophone tidak terpasang.

2. Instrument Distortion (dB)
Selama tes geophone tidak terhubungkan. Generator pada FDU digunakan sebagai input channel yang sedang di tes.

3. Instrument Crosstalk (dB)
Tes ini terdiri dari dua tahap. Selama tahap pertama generator tes memberikan sebuah sinyal sinusoidal ke test network pada setiap FDU genap. Converter ADC pada setiap FDU ganjil mengukur tegangan yang dihasilkan pada test network-nya. Generator tes pada setiap FDU ganjil tidak diaktifkan. Kemudian pada tes tahap kedua sinyal sinusoidal diberikan pada setiap FDU ganjil dan tegangan yang dihasilkan diukur pada tes network setiap FDU genap.

4. Instrument Gain/Phase Error (%)
Tes ini memberikan error maksimum pada amplitudo dan fase. Geophone tidak terpasang. Generator yang berada di dalam FDU digunakan sebagai input channel yang sedang dites.

5. Common Mode Rejection (dB)
Selama tes, geophone tidak terpasang. Generator yang berada di dalam FDU digunakan sebagai input channel yang sedang dites.

Apabila setelah dilakukan Instrument Test ternyata ada FDU yang rusak maka harus dilakukan pergantian. Setelah pergantian FDU dilakukan maka dilakukan Instrument Tes ulang. Instrument Test sangat penting karena hasilnya mencerminkan kualitas alat yang digunakan. 

Tampilan window Operation

Ketika pilihan SOURCE dipilih pada menu Preference, maka pada panel utama Operation menyediakan sebuah tabel yang berisi informasi akuisisi dari data dan memungkinkan observer untuk memilih source point yang akan ditembak. Disebelah bawah panel terdapat hasil dari akuisisi dan informasi proses akuisisi data tersebut, yaitu Internal Time Break (ITB) dan Transmit Error.
Transmit Error (TE) terjadi apabila satu atau lebih kesalahan pada proses transmisi data terdeteksi pada Line. Internal Time Break (ITB) menunjukkan bahwa 408XL gagal menerima Time Break dan juga Time Break Window. ITB dihasilkan setelah Time Break Window mengikuti setelah Firing Order seleasi, dengan akurasi ± 5 ms.

Tampilan panel Result pada window Operation

Transmit Error (TE) terjadi apabila satu atau lebih kesalahan pada proses transmisi data terdeteksi pada Line. Internal Time Break (ITB) menunjukkan bahwa 408XL gagal menerima Time Break dan juga Time Break Window. ITB dihasilkan setelah Time Break Window mengikuti setelah Firing Order seleasi, dengan akurasi ± 5 ms.
TB Window adalah interval waktu yang mulai ketika 408XL mengirim sebuah Firing Order (FO). Selama TB Window, 408XL menunggu TB dari shooting system. Jika TB muncul dalam interval tersebut, kemudian akuisisi dimulai. Jika TB tidak muncul maka 408XL membuat sebuah Internal TB (ITB) dan akuisisi dimulai.
Tabel operasi source harus didefinisikan dengan menggunakan panel Source Operation Setup pada menu Preference. Kolom pada panel utama Operation adalah sama seperti pada panel Operation Setup
Selama akuisisi sebuah pesan ASCII diterima dari kotak blaster (melalui adaptor XDEV pada Auxiliary line) yang terdiri dari nilai:

1. Uphole Time (UHT)
Uphole Time adalah waktu pulsa dari ledakan terdeteksi oleh uphole. Ditentukan dengan menganalisa sinyal dari geophone uphole.

2. Confirmed Time Break (CTB)
CTB adalah banyaknya waktu dari arus yang mengalir ke detonator lebih besar dari 4 amps. Mulainya arus mengalir adalah sebagai awal dari Time Break.

Panel Process Type Setup digunakan untuk menyediakan informasi dari tipe pemprosesan data. Record Length (1,0 – 99,9 detik) adalah lamanya waktu perekaman data. Pada model Impulsive, waktu ini sama dengan lamanya akuisisi data. Refraction Delay (0 – 64.000 ms) adalah selisih waktu antara Time Break yang diterima oleh 408XL dengan dimulainya akuisisi. TB Window (0 – 64.000 ms) adalah interval waktu yang dimulai ketika 408XL mengirim sebuah Firing Order (FO). Selama TB Window, 408XL menunggu TB dari shooting system. If TB muncul pada interval tersebut maka akuisisi dimulai. Jika tidak maka 408XL akan menghasilkan sebuah Internal TB (ITB) dan akuisisi dimulai. AUX Process Descriptor adalah untuk mendefinisikan proses yang ingin dilakukan pada channel auxiliary.

Tampilan menu Process Type Setup pada window Operation

Panel Process Type Setup seperti yang di bawah terdiri dari sebuah tabel yang berisi karakteristik dari perencanaan Shot Point secara berurutan.

Tampilan menu Operation Source Setup pada window Operation

Spread Option memungkinkan kita untuk memilih antara “Absolute” dan “Generic”. Dengan memilih “Absolute” kita harus menspesifikasi spread dari akuisisi yang akan digunakan secara komplit untuk setiap tembakan. Ketika kita mengisi file SPS ke database pada dengan menggunakan Log, maka akan secara otomatis akan mengaktifkan tabel operasi dengan menggunakan spread Absolute.
Sebuah spread “Generic” akan mendeskripsikan pola dari channel aktif. Generic sangat berguna jika pemprograman spread diselesaikan secara manual dan kita tidak ingin mengubah deskripsi setiap kali spread bergeser.
Shot/Vp Id adalah untuk nomor Shot point atau Vibrated Point. Break Point adalah untuk memberikan identitas apakah pada Shot Point tersebut sudah dilakukan penembakan atau belum. Source Line untuk menandakan pada Line berapa sumber getaran atau Shot Point berada. Source Receiver adalah untuk menandakan pada Line berapa Receiver atau geophone berada. Sfl, Spread First receiver Position Number, adalah Receiver Position atau nomor trace terendah pada spread. Pada generic spread Sfn diisi oleh operator, sedangkan pada absolute spread Sfl secara otomatis akan dihitung oleh sistem.
Dengan menekan tombol GO maka Firing Order akan terkirim. Dengan menekan ABORT maka akan menginterupsi shot point yang sedang ditembak setelah proses akuisisi selesai. Sebuah kotak dialog akan tampil dan memberikan pilihan apakah ingin merekam data atau menggagalkan shot point. Pilih OK jika ingin merekam akuisisi. Jika memilih CANCEL maka proses akuisisi tidak akan direkam.
Selama penembakan dapat terjadi kegagalan-kegagalan atau disebut juga dengan Misfire. Ada Misfire yang terjadi sehingga harus dilakukan redrill, dan ada juga yang tidak.
Misfire yang terjadi sehingga harus dilakukan redrill diantaranya adalah:

1. Dead Cap
Dead Cap terjadi karena detonator tidak aktif, atau dapat juga terjadi karena kabel detonatornya terlepas atau open. Dapat terdeteksi dengan nilai hambatan detonator yang terukur pada blaster yang terlalu besar.

2. Short Wire
Short Wire terjadi karena kabel detonator terkelupas dan terhubung dengan kabel pasangannya dai polaritas yang berbeda. Short Wire terdeteksi dengan nilai hambatan detonator yang terukur pada blaster terlalu kecil.

3. Lost Wire
Lost Wire atau hilangnya kabel detonator dapat terjadi karena dua hal. Yang pertama dapat terjadi karena kabel detonator tersebut terperosok ke dalam lubang sehingga tidak mungkin lagi untuk diambil. Atau dapat juga hilang karena diambil atau ditarik oleh orang secara sengaja maupun tidak sengaja. Biasanya ada beberapa orang warga setempat yang sengaja mengambil kabel detonator tersebut untuk dijual.

4. Lost Hole
Lost Hole atau hilang lubang dapat terjadi karena hilangnya patok shot point sehingga shooter tidak dapat mencari posisi lubang tembak. Adanya kompensasi dan offside akan mempertambah sulit shooter dalam mencari lubang tembak terutama apabila patoknya hilang.

5. Cap Only
Cap Only terjadi karena pada saat penembakan hanya detonatornya saja yang meledak sedangkan bahan peledaknya tidak, sehingga getaran yang dihasilkan tidak cukup kuat.

6. Weak Shot
Weak Shot terjadi karena hanya sebagian dari bahan peledak saja yang ikut meledak sehingga getaran yang dihasilkannya lemah.

7. No CTB & UHT
No CTB & UHT terjadi karena 408XL tidak dapat menerima Confirm Time Break dan Uphole Time dari blaster slave. Hal ini dapat terjadi karena beberapa hal, diantaranya adalah karena komunikasi radio yang buruk. Komunikasi radio yang buruk dapat menyebabkan No CTB & UHT dikarenakan pengiriman data CTB dan UHT dari blaster slave ke blaster master di LABO adalah melalui transmisi radio. No UHT dapat terjadi karena shooter tidak memasang geophone Uphole dengan baik.

8. DAS (Dead After Shot)
DAS adalah kegagalan yang muncul setelah penembakan dilakukan. Sebelum penembakan dilakukan tidak ada kerusakan pada detonator yang terukur. Tetapi setelah penembakan dilakukan terjadi kerusakan pada detonator yang terdeteksi.

9. Low Frequency
Low Frekuency terjadi karena rendahnya frekuensi yang dihasilkan oleh sumber getar. Low Frequency menyebabkan data yang terekam tidak bagus. Low Frequency dapat disebabkan karena areanya yang menyerap energi dari sumber getar, atau karena penanaman bahan peledak yang kurang dalam.

10. Line Cut
Line Cut terjadi karena adanya kegagalan pengiriman data melalui kabel pada saat akuisisi data sehingga sebagian data hilang. Line Cut biasa terjadi karena transmission error yang disebabkan oleh efek statik. Efek statik sering terjadi apabila cuaca mendung atau berawan. Efek statik dapat terjadi pada saat proses akuisisi berlangsung sehingga sulit untuk diprediksi.

11. Wrong Spread
Wrong Spread terjadi karena tidak cocoknya antara shot point yang ditembak dengan channel yang aktif. Wrong spread dapat disebabkan oleh dua hal, yang pertama adalah karena adanya kesalahan pada pemprograman yang dilakukan oleh operator Labo. Wrong Spread juga dapat terjadi karena kesalahan posisi yang dilakukan oleh shooter. Wrong Spread dapat dihindari dengan mencek program sebelum penembakan, dan mencek posisi shooter.

12. Lost Record
Lost Record terjadi karena kegagalan dalam merekam data ke dalam cartridge setelah data berhasil diakuisisi. Lost Record dapat terjadi karena recorder sedang di bypass, atau juga dapat terjadi karena konektivitas yang tidak baik antara cartridge dengan PRM.

RECORDING

Departemen recording bertanggung jawab melakukan perekaman dengan produktifitas yang baik dengan tetap menjaga kualitas data. Uraian pekerjaan perekaman antara lain:
1. Mengkoordinasikan dan melaksanakan pekerjaan perekaman data seismik.
2. Mengkoordinasikan dan mengawasi transportasi peralatan perekaman di lapangan.
3. Memasang, membongkar, mengangkut serta merawat instrumen beserta kelengkapannya di lapangan.
4. Memasang geophone pada lintasan survey sampai mencapai lapisan tanah yang stabil dengan bantuan alat penekan geophone dengan jarak antar geophone sesuai parameter lapangan yang telah ditetapkan oleh rekanan.
5. Pada permukaan yang keras, misalnya batu gamping atau kerikil, menggunakan super planter untuk melubangi tanah sehingga geophone terpasang dengan stabil.
6. Merawat keseluruhan peralatan lapangan mulai dari geophone, kabel, FDU, alat kontrol utama serta peralatan perekaman lainnya.
7. Memasang dan menghubungkan group geophone pada lintasan serta menyambungkannya ke FDU.
8. Memasang LAUL, LAUX, baterai, kabel dan peralatan lainnya pada posisi-posisi yang diperlukan sehingga pekerjaan perekaman berjalan dengan baik.
9. Membuka lubang bor yang telah diisi bahan peledak dan menyambungkan kabel detonator dengan firing line blaster.
10. Melakukan tes detonator. Jika detonator bekerja dengan baik maka pekerjaan dilanjutkan ke tahap berikutnya. Yang dimaksud detonator bekerja dengan baik adalah memenuhi persyaratan untuk diledakkan.
11. Meledakkan bahan peledak dengan koordinasi dengan observer yang berada di Labo.
12. Melakukan bor ulang atau bor lubang baru kemudian mengisinya dengan bahan peledak dan merekam kembali data titik tembak tersebut jika sebelumnya terjadi misfire. Posisi lubang baru adalah pada radius maksimum 5 m dari lubang sebelumnya.
13. Memperbaiki geophone, kabel, LAUL, LAUX, dan peralatan lainnya yang rusak.
14. Perekaman data dilakukan pada dua buah tape sekaligus.
15. Melepas geophone dari tanah dan sambungannya dengan FDU, melepas kabel link dan menggulungnya.



 

Unit dan Peralatan Recording

A. Kru Bentang
Kru bentang bertugas untuk membentang kabel link FDU dan geophone di lintasan sesuai dengan trace. Hasil dari kru bentang adalah kabel link yang telah terpasang dan geophone siap rojok. Peralatan yang dibawa oleh kru adalah kayu atau bambu untuk menggotong kabel dan geophone, dan juga radio HT yang dibawa oleh mandor.

B. Team Rojok
Kru rojok bertugas untuk menanam geophone dengan baik. Kualitas rojokan sangat berpengaruh pada kualitas perekaman, karena menanam geophone dengan tidak baik dapat menyebabkan potensial noise menjadi lebih besar atau sebaliknya geophone tidak dapat mendeteksi getaran dengan tidak baik. Kru rojok membawa tali chaining untuk mengukur jarak antar geophone, super planter untuk membuat lubang di tanah tempat menanam geophone, dan pipa rojok untuk menanam geophone. Peralatan yang dibawa oleh team rojok adalah:
1. Super planter
2. Planting hole
3. Tali chaining
4. Radio HT
5. Program kerja
6. P3K
7. Blanko toolbox meeting
8. Helm + sarung tangan + sepatu
9. Kacamata
10. Masker hidung

C. Team Labo
Kru Labo bertugas untuk menyiapkan lokasi Labo, seperti antena Labo, membentang kaber transfer dari Labo ke line, dan mendirikan tenda Labo. Kru labo juga sangat berperan dalam perpindahan Labo. Peralatan yang dibawa oleh kru Labo adalah:
1. Tiang antena
2. Antena repeater
3. Radio repeater
4. Tali labrang
5. Conector
6. Kabel antenna
7. Seling katrol
8. Linggis untuk labrang
9. Paku ground + kabel ground
10. Baterai + jumper power
11. Harnes (tali pengaman)
12. Tool set (kunci-kunci, contact cleaner)
13. Radio HT
14. Program kerja
15. P3K
16. Blanko toolbox meeting
17. Helm + sarung tangan + sepatu
18. Kacamata hitam
19. Masker hidung

D. Observer Line
Observer bertugas untuk melakukan trouble shooting di lintasan.  observer bertanggung jawab untuk mengawasi proses penanaman geophone. Ada juga observer yang bertugas untuk mengawasi cek leakage di lapangan. Observer line bekerja untuk kontraktor, Peralatan yang bibawa adalah:
1. Tang potong
2. Tang long nose
3. Obeng
4. Contact cleaner
5. Short KCK (resistor)
6. Radio HT
7. Program kerja
8. P3K
9. Blanko toolbox meeting
10. Helm + sarung tangan + sepatu
11. Kacamata
12. Masker hidung

E. Team Check Leakage
Kru rojok bertugas mengecek leakage string geophone dan cek kabel link dengan LT setelah dibangkit sebelum dibentang kembali dilintasan. Cek leakage sangat penting untuk memastikan geophone yang dimasukkan ke lintasan dalam keadaan baik agar dapat mengurangi pergantian geophone atau kabel di lintasan sehingga mempermudah trouble shooting. Cek leakage geophone menggunakan string scan. Peralatan yang bibawa adalah:
1. LT set ( cable conector)
2. Baterai + jumper power
3. LAUL
4. Tool set (paku + pita + lem + tang jepit + tali rafia)
5. String scan
6. Contact cleaner
7. Multimeter
8. Ember + drum
9. Terpal + paying
10. Compressor
11. BBM
12. Radio HT
13. Program kerja
14. P3K
15. Blanko toolbox meeting
16. Helm + sarung tangan + sepatu
17. Kacamata
18. Masker hidung

F. Shooter Redrill
Kru shooter redrill bertugas melakukan penembakan ulang atau redrill akibat terjadinya misfire. Dalam satu kru shooter terdapat seorang shooter yang bekerja untuk kontaktor. Shooter yang bekerja harus mempunyai lisensi sebagai shooter. Kru shooter redrill membawa peralatan yang sama dengan kru shooter produksi ditambah dengan alat untuk melakukan flushing. Alat yang dibutuhkan untuk melakukan flushing antara lain mata bor, mud pump, pipa bor, king swivel, ginagol, selang hisap, dan polimer. Shooter redrill juga harus membawa dan merakit bahan peledak dan detonator. Misfire yang harus dilakukan redrill diantaranya adalah; lost hole, line cut, lost wire, dead after shoot (DAS), short wire, dead cap, weak shoot, cap only, no CTB and UHT, lost record, dan wrong spread. Peralatan yang bibawa adalah:
1. Mud pump
2. King swivle
3. Mata bor + nipple
4. Pipa bor
5. Selang king swiple
6. Selang hisap
7. Saringan selang hisap
8. Kunci pipa
9. Cangkul
10. Dirigen 20 liter
11. Firing line
12. Lastok + dummy + planting hole
13. Pancing lubang
14. Kotak handak + kunci kotak handak
15. Baterai kering
16. Blaster slave
17. Tool set
18. Cap tester
19. Capsim (up hole test)
20. Antenna pecut (antenna Ringo)
21. Polimer
22. BBM
23. Oli
24. Pompa sedot bensin
25. Radio HT
26. Program depth charge
27. P3K
28. Blanko toolbox meeting
29. Helm + sarung tangan + sepatu
30. Kacamata
31. Masker hidung
32. Parang

G. Shooter Produksi
Kru shooter bertugas untuk meledakkan shoot point. Peralatan yang di bawa adalah blaster master-slave untuk memberikan arus untuk meledakkan detonator. Dalam satu kru shooter terdapat seorang shooter yang bekerja untuk kontraktor. Shooter yang bekerja harus mempunyai lisensi sebagai shooter. Blaster slave dilengkapi dengan radio frekuensi sebagai alat komunikasi, penerima sinyal untuk meledakkan deto dari Labo, dan mengirim data seperti uphole time dan confirm time break ke Labo. Kru shooter juga membawa firing line yang terdiri dari dua line, yaitu untuk dihubungkan ke kabel deto dan satu lagi untuk dihubungkan dengan up hole geophone. Kru shooter juga harus membawa pancing untuk mempermudah mengambil O Ring yang ditanam di lubang SP. Peralatan yang bibawa adalah:
1. Baterai kering
2. Blaster slave
3. Firing line
4. Geophone up hole
5. Capsim
6. Tool set
7. Planting hole
8. Pancing lubang
9. Antena pecut (antenna Ringo)
10. Radio HT
11. Program kerja
12. P3K
13. Blanko toolbox meeting
14. Helm + sarung tangan + sepatu
15. Kacamata
16. Masker hidung

H. Team Repeater
Kru repeater bertugas untuk memasang antena repeater. Kru repeater juga mendirikan tower untuk memasang antena. Pada area yang tidak memungkinkan untuk mendirikan tower, antena juga dapat dipasang di atas pohon. Penempatan repeater harus diperhitungkan agar dapat menghubungkan kedua belah pihak yang berkomunikasi. Ketinggian repeater juga harus lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi di sekitarnya. Peralatan yang bibawa adalah:
1. Antenna repeater
2. Radio repeater
3. Tali labrang
4. Conector + spare jumper conector
5. Kabel antena
6. Paku ground + kabel ground
7. Baterai + jumper power
8. Harness (tali pengaman)
9. Tool set (kunci-kunci, contact cleaner)
10. Radio HT
11. Program kerja
12. P3K
13. Blanko toolbox meeting
14. Helm + sarung tangan + sepatu
15. Kacamata
16. Masker hidung

I. Kru Baterai
Kru baterai bertugas untuk memasang baterai pada LAUL atau LAUX di lintasan. Satu kru bertugas untuk memasang satu baterai dan dipimpin oleh seorang mandor telepon. Satu kru membawa spare dua string geophone dan satu roll kabel link. Selain memasang kabel, kru mandor telepon juga bertugas untuk melakukan trouble shooting dan menjaga noise di lintasan.

RECORDING

Crossing Line Acquisition Unit, atau lebih dikenal dengan LAUX, ekivalen dengan CSU (Crossing Station Unit) yang digunakan pada Sercel SN388 yang dilengkapi dengan beberapa fungsi tambahan. LAUX hidup ketika menerima tegangan pada empat portnya (minimal 5 V DC), dan memberikan tegangan suplai +/-24 V pada setiap port transmisi dan pada transmisi transfer dengan sebuah tegangan DC untuk menghidupkan LAUX berikutnya dan seterusnya.



LED merah mengindikasikan status dari LAUX:
- LED mati: LAUX mati
- LED menyala: terjadi masalah pada perangkat keras, LAUX harus diganti
- Kelap-kelip: LAUX bekerja dengan bagus
LAUX dihubungkan dengan CM408 dengan menggunakan kable transfer. LAUX menginterpretasikan perintah yang dikirim oleh CM408 dan mengontrol FDU pada kedua sisi (mencapai 48 sampai 60 jika jarak antar FDU 30 m pada masing-masing sisi) dan juga mengumpulkan, decimates, filter dan mengkompres data sebelum mengirimkannya ke CM408. LAUX juga mensinkronisasi semua sampel dengan time break. Sample rate dapat diatur pada 0,25 ms, 0,5 ms, 1 ms, 2 ms, dan 4 ms.
LAUX terdiri dari dua buah board:
- LPX (Line processor crossing board) yaitu board yang terdiri dari hardware digital.
- LIPX (Line interface and power crossing board) yaitu board yang terdiri dari booster dan power supply.


Beberapa fungsi LAUX antara lain:
1. Menginterpretasikan perintah yang dikirim oleh CM408
2. Mengontrol FDU pada kedua sisi (high line dan low line)
3. Mengumpulkan, decimates, filter dan mengkompres data sebelum mengirimkannya ke CM408
4. Mensinkronisasi semua sampel dengan time break
5. Sebagai konektor port pada Line
6. Mengoperasikan baterai standar 12 V DC
7. Memberikan dan mengkontrol power Line, memberikan field test.
8. Menerima dan mengirim status dan data. 


Spesifikasi LAUX adalah:
1. Kapasitas data 16,384 Mb/s, 2000 channel aktif dengan sample rate 2 ms
2. Tegangan operasional 10,5 – 15 V DC
3. Berat 5,5 kg
4. Jumlah FDU maksimal diantara LAUX:
- 60 FDU, dengan jarak antar FDU 30 m
- 48 FDU, dengan jarak antar FDU 55 m
- 40 FDU, dengan jarak antar FDU 75 m
5. Kedap air sampai kedalaman 15 m


Selama akuisisi LAUX mengkonsumsi daya sebesar 5,7 W (0,32 W ketika tidak melakukan akuisisi). Konsumsi FDU (0,15 W untuk satu FDU) dan daya yang hilang pada kabel juga harus diperhitungkan.

Consumption = 5,7+(N*0,15/0,75)+loss in cables

- 1,7 W untuk 60 FDU dengan jarak 30 m
- 1,5 W untuk 48 FDU dengan jarak 55 m
- 1,2 W untuk 40 FDU dengan jarak 80 m


Diagram LAUX



 

Line Acquisition Unit Land (LAUL) Sercel SN408XL

Line Acquisition Unit Land atau lebih dikenal dengan LAUL ekivalen dengan PSU pada Sercel SN388. LAUL menginterpretasikan perintah yang datang dari CM408, mengkontrol FDU pada sebuah line dan mengumpulkan data dari FDU tersebut. LAUL melakukan decimating, filtering dan compressing data dan mengirim data tersebut ke CM408 melalui LAUX. LAUL juga mensinkronisasi semua sampel dengan time break.


Line Acquisition Unit Land (LAUL)
 
Beberapa fungsi LAUL antara lain:
1. Sebagai konektor port pada Line
2. Menginterpretasikan perintah yang datang dari CM408
3. Mengontrol FDU pada line
4. Mengumpulkan data dari FDU
5. Melakukan Mengoperasikan baterai standar 12 V DC
6. Memberikan dan mengkontrol power Line, memberikan field test.
7. Menerima dan mengirim status dan data.




Selama akuisisi LAUL mengkonsumsi daya sebesar 3,5 W (0,42 W ketika tidak melakukan akuisisi). Konsumsi FDU (0,15 W untuk satu FDU) dan daya yang hilang pada kabel juga harus diperhitungkan.

Consumption = 3,5+(N*0,15/0,75)+loss in cables

- 1,7 W untuk 60 FDU dengan jarak 30 m
- 1,5 W untuk 48 FDU dengan jarak 55 m
- 1,2 W untuk 40 FDU dengan jarak 80 m


Diagram LAUL

Indikator LED pada LAUL dan LAUX