Monday, December 4, 2017
Migas kita dikuasi asing!?
banyak komentar ketika perusahaan minyak kelas dua malaysia Genting Oil menemukan 2 tcf gas di Papua, dengan modal 300 juta USD mereka bisa memproyeksi kan keuntungan ke depannya hingga 14 miliar USD.
Indonesia lemah, SDA nya dikuasai asing donk kalau gitu ?!
Sebenarnya kalau kita lihat berdasarkan regulasi migas Indinesia di UU Migas, dinyatakan bahwa semua lapangan migas di Indonesia adalah milik pemerintah. Memang benar adanya. Pemerintah yang di representasikan oleh BP Migas (sekarang SKK Migas) berada di bawah Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Badan ini adalah buffering penghubung antara Oil Company yang akan bekerja di wilayah Indonesia dengan pemerintah.Dalam GCG interface bisnis yang lebih baik adalah Business to Business.
Tuan tanah dan penggarap
Di mata SKK Migas semua Oil Company itu hanya seorang Kontraktor, atau lazim disebut (KKKS, Kontraktor Kontrak Kerjasama), yaitu kontraktor yang membantu pemerintah untuk memproduksi minyak nasional nya. Sistem yang dipakai di Indonesia dalah sistem PSC (Production Sharing Contract), kalau diambil contoh ibarat sang tuan tanah yang mempunyai sawah lalu ada petani yang menggarap nya. Nanti hasil panen nya dibagi antara tuan tanah dan petani penggarap.
Seperti itu lah gambaran sistem PSC, commonly, pembagian nya adalah 85% untuk pemerintah dan 15% untuk KKKS tadi, setelah dipotong cost recovery.
Bagaimana cara mengontrol cost recovery?
Banyak orang yang khawatir, apabila ada KKKS nakal dengan mempermainkan cost recovery, seperti kasus terakhir program Bioremediasi Chevron. SKK Migas mempunyai tugas ini, setiap tahunnya KKKS wajib mempropose budget nya pada WP&B (Work Program & Budget). SKK Migas memang sebuah badan yang sangat ditakuti diantara para KKKS. International Oil Company mempertaruhkan reputasi nya disini.
Kemana aja Pertamina ketika banyak blok-blok Perawan di Indonesia dieksploarsi Oil Company asing?
Eksplorasi adalah salah satu tahap tahap awal dalam pencarian minyak. Setelah simulasi seismik, satu-satunya cara adalah dengan mengebor langsung. Modal untuk mengebor untuk membuktikan ada atau tidak nya minyak ini membutuhkan biaya yang sangat mahal. Ngebor di suatu WK itu butuh puluhan juta USD.
Banyak dari perusahaan minyak asing yang hengkang dari Indonesia karena setelah melakukan pengeboran ternyata sumur nya kering. Rate exploration success di Indonesia tak lebih dari 20%. Ibarat main judi. Menentukan titik bor di Indonesia sangat gambling. Humpuss Patragas yang melakukan eksplorasi di Cepu tidak berhasil menemukan minyak. Sewaktu WK Cepu dibeli ExxonMobil ft. Pertamina, tiba-tiba dapat menemukan 1,478 milyar barel dan gas mencapai 8,14 milyar kaki kubik. Jumlah yang sangat fantastis.
Maka dari itu, karena mahalnya investasi di bidang eksplorasi, dengan modal yang terbatas Pertamina lebih banyak berinvestasi di sumur-sumur produksi daripada di eksplorasi. Misal, beli sumur produksi BP West Java (PHE ONWJ), sumur bekas kodeco (PHE WMO) atau beli sumur produksi di luar negeri (Lapangan di Sudan, lapangan di Irak, Lapangan di Libya, dll)
Karena return nya cepat nya lebih tinggi daripada Investasi di Eksplorasi, Pertamina lebih banyak Investasi di Sumur yang sudah produksi.
Minyak dalam negeri masih banyak, kenapa harus beli di luar?
Sejak tahun UU Migas tahun 2001 disahkan. Pertamina menjadi operator. Di mata pemerintah Pertamina sejajar dengan KKKS lainnya. Previllage yang ada sebelum nya yang menjadi Regulator dan mengawasi KKKS asing dipangkas. BP Migas dan BPH Migas yang merupakan satu kesatuan dengan Pertamina di pisah dan menjadi Badan sendiri yang langsung di bawah Pemerintah.
Pertamina tunduk pada UU PT dan menjadi persero dibawah BUMN tidak menjadi Perusahaan Negara lagi.
Disini Pertamina dituntut lebih mandiri dan bersaing dengan KKKS lain. Selain mengincar WK dalam negeri yang ditawarkan pemerintah Pertamina juga berusaha ekspansi ke luar negeri.
Indonesia lemah, SDA nya dikuasai asing donk kalau gitu ?!
Sebenarnya kalau kita lihat berdasarkan regulasi migas Indinesia di UU Migas, dinyatakan bahwa semua lapangan migas di Indonesia adalah milik pemerintah. Memang benar adanya. Pemerintah yang di representasikan oleh BP Migas (sekarang SKK Migas) berada di bawah Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Badan ini adalah buffering penghubung antara Oil Company yang akan bekerja di wilayah Indonesia dengan pemerintah.Dalam GCG interface bisnis yang lebih baik adalah Business to Business.
Tuan tanah dan penggarap
Di mata SKK Migas semua Oil Company itu hanya seorang Kontraktor, atau lazim disebut (KKKS, Kontraktor Kontrak Kerjasama), yaitu kontraktor yang membantu pemerintah untuk memproduksi minyak nasional nya. Sistem yang dipakai di Indonesia dalah sistem PSC (Production Sharing Contract), kalau diambil contoh ibarat sang tuan tanah yang mempunyai sawah lalu ada petani yang menggarap nya. Nanti hasil panen nya dibagi antara tuan tanah dan petani penggarap.
Seperti itu lah gambaran sistem PSC, commonly, pembagian nya adalah 85% untuk pemerintah dan 15% untuk KKKS tadi, setelah dipotong cost recovery.
Bagaimana cara mengontrol cost recovery?
Banyak orang yang khawatir, apabila ada KKKS nakal dengan mempermainkan cost recovery, seperti kasus terakhir program Bioremediasi Chevron. SKK Migas mempunyai tugas ini, setiap tahunnya KKKS wajib mempropose budget nya pada WP&B (Work Program & Budget). SKK Migas memang sebuah badan yang sangat ditakuti diantara para KKKS. International Oil Company mempertaruhkan reputasi nya disini.
Kemana aja Pertamina ketika banyak blok-blok Perawan di Indonesia dieksploarsi Oil Company asing?
Eksplorasi adalah salah satu tahap tahap awal dalam pencarian minyak. Setelah simulasi seismik, satu-satunya cara adalah dengan mengebor langsung. Modal untuk mengebor untuk membuktikan ada atau tidak nya minyak ini membutuhkan biaya yang sangat mahal. Ngebor di suatu WK itu butuh puluhan juta USD.
Banyak dari perusahaan minyak asing yang hengkang dari Indonesia karena setelah melakukan pengeboran ternyata sumur nya kering. Rate exploration success di Indonesia tak lebih dari 20%. Ibarat main judi. Menentukan titik bor di Indonesia sangat gambling. Humpuss Patragas yang melakukan eksplorasi di Cepu tidak berhasil menemukan minyak. Sewaktu WK Cepu dibeli ExxonMobil ft. Pertamina, tiba-tiba dapat menemukan 1,478 milyar barel dan gas mencapai 8,14 milyar kaki kubik. Jumlah yang sangat fantastis.
Maka dari itu, karena mahalnya investasi di bidang eksplorasi, dengan modal yang terbatas Pertamina lebih banyak berinvestasi di sumur-sumur produksi daripada di eksplorasi. Misal, beli sumur produksi BP West Java (PHE ONWJ), sumur bekas kodeco (PHE WMO) atau beli sumur produksi di luar negeri (Lapangan di Sudan, lapangan di Irak, Lapangan di Libya, dll)
Karena return nya cepat nya lebih tinggi daripada Investasi di Eksplorasi, Pertamina lebih banyak Investasi di Sumur yang sudah produksi.
Minyak dalam negeri masih banyak, kenapa harus beli di luar?
Sejak tahun UU Migas tahun 2001 disahkan. Pertamina menjadi operator. Di mata pemerintah Pertamina sejajar dengan KKKS lainnya. Previllage yang ada sebelum nya yang menjadi Regulator dan mengawasi KKKS asing dipangkas. BP Migas dan BPH Migas yang merupakan satu kesatuan dengan Pertamina di pisah dan menjadi Badan sendiri yang langsung di bawah Pemerintah.
Pertamina tunduk pada UU PT dan menjadi persero dibawah BUMN tidak menjadi Perusahaan Negara lagi.
Disini Pertamina dituntut lebih mandiri dan bersaing dengan KKKS lain. Selain mengincar WK dalam negeri yang ditawarkan pemerintah Pertamina juga berusaha ekspansi ke luar negeri.
*Undang-undang No 1 tahun 1970,tentang keselamatan kerja.
*Undang-undang No 14 tahun 1969 tentang ketentuan pokok mengenai tenaga kerja.
*Undang-undang No 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi.
*PP No 102 tahun 2000,tentang Tandarisasi Nasional.
*Peraturan Pemerintah No 23 tahun 2004,tentang Badan Standarisasi Nasional Sertifikasi Nasional (BNSP).
*Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No231A tahun 2005 tentang Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi dan Pembinaan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).
JOB SAFETY ANALYSIS ( JSA)
JSA
Beberapa hal yang dibahas dalam pelaksanaan analisis bahaya dan resiko HSE meliputi:
Langkah kerja. Alat yang digunakan dalam kebaikan peralatan, pasokan lainnya dan mesin.
Mengidentifikasi bahaya yang timbul oleh orang-orang tindakan, pekerjaan, lingkungan alat, material dan objek. Faktor risiko dari setiap bahaya yang timbul
Peralatan Perlindungan Pribadi dan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko yang dihasilkan.Seseorang yang bertanggung jawab dalam setiap langkah kerja
Pada pelaksanaan pekerjaan di lokasi proyek JSA akan dilakukan oleh hasil penyesuaian analisis
risiko dan bahaya dengan kondisi dalam bekerja lokasi.
AUDIT INSPEKSI DAN KESELAMATAN
HSE audit akan dilakukan oleh Kontraktor operasi. Audit tersebut akan mengikuti proses
meninjau oleh manajemen dan tindak lanjut, yang semuanya akan didokumentasikan ..
HSE audit akan dilakukan pada berbagai tingkatan dalam perusahaan. Setiap tingkat akan depelot dan mendokumentasikan skema jenis audit yang dapat mencakup pertimbangan praktis dan Operasional. Kinerja HSE dan operasional akan dipantau setiap hari oleh Partai Chief, Assiten Party Chief dan Chief Keselamatan melalui kombinasi pengamatan statistik
dan pengukuran kemajuan terhadap target. Manajemen Senior dan personil HSE dari Kontraktor pusat juga akan memantau kinerja HSE secara teratur. Seluruh mesin dan peralatan kerja yang digunakan di lokasi harus melakukan pemeriksaan Safety keselamatan pada awalnya. Pedoman ini bertujuan untuk membuat mesin dan peralatan kerja yang siap untuk digunakan. Inspeksi Keselamatan dilakukan oleh Petugas Keselamatan bekerjasama dengan Chief Mechanic . Hasil pemeriksaan dituangkan/tulis sepenuhnya dalam pemeriksaan checklist. Dari Safety Audit, maka akan terlihat perencanaan perbaikan Sistem keselamatan yang telah dibuat oleh perusahaan telah bekerja dengan baik benar atau tidak. Hasil terakhir yang telah dicapai adalah perbaikan jika ada kekurangan dari temuan audit.
Pro-aktif Kinerja
Paparan Jam
Hari tanpa LTI
Km Didorong
Seismik km garis
Positif kontribusi oleh awak
Realisasi terhadap target
Latihan
Pemeriksaan
Pertemuan
Latihan / latihan
Reaktif Kinerja
Kehilangan Waktu Injury (LTI)
Fatality (FAT)
Tetap Total Cacat (PTD)
Tetap Partial Cacat (PPD)
Kerja Dibatasi Kasus (RWC)
Pengobatan Kasus (MTC)
Pertolongan Pertama Kasus (FAC)
LAPORAN KESELAMATAN
Laporan Keselamatan akan dilakukan dalam bentuk catatan harian, mingguan dan catatan catatan bulanan. Itu. Melaporkan format yang telah diberikan terdiri dari:
Kegiatan Kerja Jam Kerja, Briefing Keselamatan, dari Miss, Jumlah Kecelakaan, Kehilangan Hari Kerja, dll Kunci Indikator PertunjukanLaporan Keselamatan akan dikumpulkan sehingga ketika diaudit, bisa dipertanggungjawabkan.
LAPORAN INSIDEN DAN INVESTIGASI
TANGGAP DARURAT DAN EVAKUASI
Manajemen akan melakukan induksi, simulasi, mempertahankan dan menguji pengaturan untuk suport darurat apapun rencana atau pengaturan yang didirikan oleh atau untuk unit kerja mereka. Pengaturan tersebut dengan harus direkam dengan akses sederhana dan cepat yang diberikan kepada data yang diperlukan seperti nama dan nomor telepon dan. Prosedur untuk mengaktifkan dan mengelola pengaturan. Program ini dibuat Kontraktor dengan cara bahwa jika suatu saat ada keadaan darurat kondisi, seperti kebakaran, para pekerja dapat terbiasa. Program evakuasi akan dijelaskan
dan akan dilakukan dalam pelatihan. Skema alur komunikasi mengevakuasi dan Hati-hati
Tim darurat.
JOB SAFETY ANALYSIS ( JSA )
Suatu kajian sistematis dan bertahap terhadap semua potensi kejadian berbahaya yg terdapat di tiap langkah kerja, untuk dapat menentukan berbagai tindakan pengendalian yg dibutuhkan untuk mencegah ataumengurangi dampak dari kejadian berbahaya tersebut, selama prosespersiapan dan pelaksanaan suatu pekerjaanBeberapa hal yang dibahas dalam pelaksanaan analisis bahaya dan resiko HSE meliputi:
Langkah kerja. Alat yang digunakan dalam kebaikan peralatan, pasokan lainnya dan mesin.
Mengidentifikasi bahaya yang timbul oleh orang-orang tindakan, pekerjaan, lingkungan alat, material dan objek. Faktor risiko dari setiap bahaya yang timbul
Peralatan Perlindungan Pribadi dan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko yang dihasilkan.Seseorang yang bertanggung jawab dalam setiap langkah kerja
Pada pelaksanaan pekerjaan di lokasi proyek JSA akan dilakukan oleh hasil penyesuaian analisis
risiko dan bahaya dengan kondisi dalam bekerja lokasi.
AUDIT INSPEKSI DAN KESELAMATAN
HSE audit akan dilakukan oleh Kontraktor operasi. Audit tersebut akan mengikuti proses
meninjau oleh manajemen dan tindak lanjut, yang semuanya akan didokumentasikan ..
HSE audit akan dilakukan pada berbagai tingkatan dalam perusahaan. Setiap tingkat akan depelot dan mendokumentasikan skema jenis audit yang dapat mencakup pertimbangan praktis dan Operasional. Kinerja HSE dan operasional akan dipantau setiap hari oleh Partai Chief, Assiten Party Chief dan Chief Keselamatan melalui kombinasi pengamatan statistik
dan pengukuran kemajuan terhadap target. Manajemen Senior dan personil HSE dari Kontraktor pusat juga akan memantau kinerja HSE secara teratur. Seluruh mesin dan peralatan kerja yang digunakan di lokasi harus melakukan pemeriksaan Safety keselamatan pada awalnya. Pedoman ini bertujuan untuk membuat mesin dan peralatan kerja yang siap untuk digunakan. Inspeksi Keselamatan dilakukan oleh Petugas Keselamatan bekerjasama dengan Chief Mechanic . Hasil pemeriksaan dituangkan/tulis sepenuhnya dalam pemeriksaan checklist. Dari Safety Audit, maka akan terlihat perencanaan perbaikan Sistem keselamatan yang telah dibuat oleh perusahaan telah bekerja dengan baik benar atau tidak. Hasil terakhir yang telah dicapai adalah perbaikan jika ada kekurangan dari temuan audit.
Pro-aktif Kinerja
Paparan Jam
Hari tanpa LTI
Km Didorong
Seismik km garis
Positif kontribusi oleh awak
Realisasi terhadap target
Latihan
Pemeriksaan
Pertemuan
Latihan / latihan
Reaktif Kinerja
Kehilangan Waktu Injury (LTI)
Fatality (FAT)
Tetap Total Cacat (PTD)
Tetap Partial Cacat (PPD)
Kerja Dibatasi Kasus (RWC)
Pengobatan Kasus (MTC)
Pertolongan Pertama Kasus (FAC)
LAPORAN KESELAMATAN
Laporan Keselamatan akan dilakukan dalam bentuk catatan harian, mingguan dan catatan catatan bulanan. Itu. Melaporkan format yang telah diberikan terdiri dari:
Kegiatan Kerja Jam Kerja, Briefing Keselamatan, dari Miss, Jumlah Kecelakaan, Kehilangan Hari Kerja, dll Kunci Indikator PertunjukanLaporan Keselamatan akan dikumpulkan sehingga ketika diaudit, bisa dipertanggungjawabkan.
LAPORAN INSIDEN DAN INVESTIGASI
Tujuan dari sistem laporan insiden dan investigasi adalah:
Untuk menyelidiki semua insiden berbahaya dan berpotensi pada tingkat yang tepat, kedalaman dan kecepatan merekam keseriusan.
Setelah menentukan akar penyebab, untuk mengambil tindakan yang tepat untuk mencegah terulangnya insiden atau insiden serupa.
Untuk mengkomunikasikan temuan investigasi insiden, kesimpulan yang dicapai dan
rekomendasi yang dibuat untuk semua personil yang tepat.
Untuk mengidentifikasi tren secara tepat waktu dan daerah target perhatian khusus.
.
TANGGAP DARURAT DAN EVAKUASI
Manajemen akan melakukan induksi, simulasi, mempertahankan dan menguji pengaturan untuk suport darurat apapun rencana atau pengaturan yang didirikan oleh atau untuk unit kerja mereka. Pengaturan tersebut dengan harus direkam dengan akses sederhana dan cepat yang diberikan kepada data yang diperlukan seperti nama dan nomor telepon dan. Prosedur untuk mengaktifkan dan mengelola pengaturan. Program ini dibuat Kontraktor dengan cara bahwa jika suatu saat ada keadaan darurat kondisi, seperti kebakaran, para pekerja dapat terbiasa. Program evakuasi akan dijelaskan
dan akan dilakukan dalam pelatihan. Skema alur komunikasi mengevakuasi dan Hati-hati
Tim darurat.
KESEHATAN KERJA DAN LINGKUNGAN
Kesehatan kerja dan kebersihan linkungan kerja akan dilakukan oleh setiap personel karyawan Kontraktor. Itu perilaku setiap karyawan harus berorientasi kepada kesehatan dan keselamatan kerja. Keselamatan Petugas akan bertanggung jawab untuk pelaksanaan kegiatan ini. Keselamatan kerja peralatan dan zat mudah terbakar / berbahaya harus dilakukan oleh setiap karyawan. Inspeksi dan audit harus dilakukan oleh Petugas Keselamatan sehingga tindakan perbaikan dapat dilakukan. Keamanan lingkungan dan kebersihan kerja menjadi tanggung jawab kami semua.
Memiliki tempat untuk membuang sampah serta organik atau non organik, sampah kering serta
sebagai sampah basah harus menjadi prioritas pertama.
Jika ada beberapa kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan, harus
bertanggung jawab sesuai prosedur.
PROSEDUR HSE
Perusahaan telah membuat dokumentasi Standard Operation Procedure (SOP) dan
Instruksi Kerja untuk setiap aspek kegiatan operasi.
MANAJEMEN BAHAYA DAN RISIKO
Proses manajemen bahaya dan risiko terdiri dari 4 (empat) langkah:
Sistematis identifikasi bahaya.
Evaluasi tingkat bahaya
Penerapan Pengendalian Keuangan.
Perencanaan untuk Restorasi.
Proses ini menggunakan garis pertanyaan dari setiap kegiatan yang telah dilakukan.
Data dari setiap baris aktivitas dapat menyatakan bahwa data tersebut telah dimuat semua kegiatan
yang terjadi / telah dilakukan dalam beberapa pekerjaan. Risiko dan manajemen bahaya dituangkan
secara rinci dalam Risiko Identifikasi Bahaya Dan Pengendalian Risiko (HIRARC).
RENCANA HSE
Untuk tahap perencanaan operasi bisa efektif, harus memperhatikan dirinya dengan pencegahan
insiden melalui penghapusan atau pengendalian bahaya dan mitigasi konsekuensi
harus berbahaya bahkan terjadi. Oleh karena itu, proses harus diikuti secara sistematis
mengidentifikasi dan menilai bahaya dan mengembangkan kontrol untuk mengelola mereka, yang tidak dapat dihilangkan.
Hal ini dapat dicapai dengan:
Menggunakan kebijakan perusahaan berkembang, standar dan prosedur
Melakukan kunjungan kepanduan untuk menilai situasi di lapangan.
Studi perundang-undangan dan kode disetujui mendukung praktek.
Sebuah analisis melalui dari operasi tertentu.
Sebuah studi kecelakaan, insiden dan data kesehatan yang buruk dari operasi sebelumnya.
1. Rencana operasi
Pengalaman menunjukkan bahwa kinerja HSE dapat dioptimalkan melalui perencanaan terstruktur
Proses, yang meliputi:
Komprehensif operasional pra-perencanaan HSE menggabungkan langkah-langkah untuk mengelola bahaya diidentifikasi.
Verifikasi standar peralatan keselamatan sebelum operasi start-up.
Memverifikasi bahwa Sistem Manajemen HSE yang efektif adalah di tempat sebelum start-up.
Sebuah manajemen HSE program pelatihan yang ditujukan untuk manajemen lini senior dan atasan langsung. Ini pelatihan akan mencakup topik-topik seperti Hazard Analysis Job, Audit Act aman, Pelatihan Keselamatan
Program observasi, manajemen limbah dan pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku.
Audit rutin dan inspeksi dari manajemen sesuai dengan jadwal yang direncanakan dan berfokus pada HSE
Manajemen.
HSE plan
Perencanaan yang efektif sangat penting untuk semua aspek bisnis, dengan rencana berdasarkan diketahui dan
meneliti informasi, dan beralasan asumsi. Sebuah rencana untuk perbaikan berkelanjutan yang terkandung
dalam rencana HSE ..
Sistem Manajemen HSE akan menetapkan target dan cara-cara untuk mendapatkan hal itu, untuk mengidentifikasi pihak
yang bertindak bersama dengan menentukan proses penampakan ..
Rencana HSE dikembangkan dari hal-hal seperti:
Persyaratan dibawa dari rencana tahun sebelumnya.
· Audit dan inspeksi temuan.
· Insiden temuan.
Kecelakaan investigasi temuan.
HSE Saran dari karyawan.
· Item tinjauan aksi Manajemen
HSE Target
Hal ini penting untuk menetapkan target HSE yang diterima oleh manajemen dan karyawan dicapai.
Biasanya, target progresif mengurangi diatur, yang dalam jangka panjang akan menyebabkan kecelakaan diri gratis.
kinerja. Target yang realistis hanya dapat ditetapkan setelah menilai ruang lingkup kerja untuk periode di bawah
meninjau dan mengalokasikan tugas untuk mengelola pekerjaan tersebut. Satu-satunya cara untuk mencapai target HSE adalah untuk mengelola efektif risiko yang mengancam prestasi. Efektif manajemen menuntut bahaya dan kontrol mereka harus, sejauh mungkin, akan dibahas dalam proses perencanaan. Laporan staf meliputi HSE terkait target atau tugas terhadap kinerja yang dapat diukur.
Ini harus mengalir turun dari departemen harus juga dituntut tanpa memberikan
individu alat untuk melakukan pekerjaan itu, seperti pelatihan dan peralatan yang tepat.
PROTEKSI PERALATAN PRIBADI (PPE)
Klien mastikan bahwa semua setiap APD yang diberikan dan atau digunakan akan:
Sesuai
Berkualitas baik
Dalam jumlah yang cukup
Persyaratan untuk peralatan pelindung tambahan terus dinilai oleh karyawan
dan garis supervisor. Semua APD sesuai dengan nasional diakui atau standar internasional dan
perusahaan menyimpan catatan standar saat ini. Standar saat ini digunakan untuk PPE adalah sebagai berikut:
· Baju
· Tangan Sarung tangan
· Keamanan Helm
· Keselamatan Goggles
· Pelindung Telinga (Ear Plugs)
· Sepatu Keselamatan
· Rain Coat
· Masker
· Life Jacket
· Kotak Pertolongan Pertama (P3K)
RAPAT KESELAMATAN
Ruang lingkup ini pertemuan keselamatan meliputi:
8.1. HSE Commite
Party Chief dan kepala Seksi akan mengadakan pertemuan HSE commitesetiap minggu untuk
tinjauan kru HSE kinerja dan merencanakan strategi lebih lanjut dalam rapat HSE.
8.2. Bagian HSE Rapat
Bagian HSE pertemuan akan diadakan sebulan sekali. Umumnya bagian pengawas kursi ini
pertemuan meskipun berputar kursi di antara anggota staf senior yang terlibat akan meningkatkan keselamatan
Keterlibatan. Bagian HSE rapat tersebut membahas bagian ma'ers terkait HSE dan menyampaikan
komentar dan informasi dari Bagian tersebut Kepala pertemuan.
Jika ada jumlah besar di bagian apapun mungkin perlu untuk memecah pertemuan ini menjadi
kecil kelompok.
8.3. Toolbox HSE Rapat / Toolbox Meeting HSE
Setiap unit kerja akan mengadakan pertemuan toolbox setiap hari. Pertemuan toolbox Selanjutnya akan diadakan
sebelum dimulainya setiap operasi yang tidak biasa atau setiap kali timbul masalah-masalah tertentu.
Rapat juga akan diadakan setelah insiden atau kecelakaan untuk menyebarkan informasi.
8.4. Keselamatan Induksi / Induksi K3LL
Mengetahui ruang lingkup pekerjaan dan gambar tentang hal-hal yang akan dilakukan dalam
lokasi, pekerja akan diberikan induksi keselamatan. Budaya ini telah dilakukan dalam setiap proyek
yang dimiliki oleh perusahaan. Induksi Keselamatan meliputi:
· Lingkup pekerjaan
· Persiapan kru
· Peralatan persiapan
· Metode kerja
· Pelaksanaan pekerjaan
8,5. Keselamatan Breifing
Sebelum para pekerja pergi dan bekerja di lokasi, briefing harus dilakukan pada awalnya. Laporan ini
bertujuan untuk mengetahui tentang persiapan pekerja untuk bekerja di lokasi. Bahan briefing
meliputi beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman oleh para pekerja dalam melakukan tugas-tugas mereka. Itu
materi yang akan diberikan dalam bentuk:
Prosedur Operasi Standar
Komunikasi
Personal Protection Equipment
Lingkungan
Dekat Miss
Menjaga rumah
Bahaya Potensi
Etc
8.6. Pemberitahuan Boards
Papan pengumuman akan digunakan untuk menyampaikan informasi di tingkat crew
PELATIHAN KESELAMATAN
Dalam rangka kemampuan pekerja dapat memperluas, untuk seluruh / pekerja semua, perusahaan melakukan beberapa pelatihan
Program. Dari program ini adalah pekerja dominasi untuk bekerja wilayah masing-masing akan selalu meningkat
Metode pelatihan
Pelatihan kesadaran akan disediakan oleh proses induksi seperti yang dijelaskan secara rinci dalam kru
prosedur akan diuraikan secara rinci pada pedoman prosedure kerja
Penyediaan informasi ini di lokasi yang berlaku dengan peralatan yang berlaku
ke tangan akan meningkatkan efektivitas dan meningkatkan retensi. Partisipasi dalam kegiatan seperti
(Sederhana) JSA adalah untuk meninjau prosedur selama dimulainya pekerjaan awal dari setiap unit akan
memberikan pemahaman yang berharga untuk proses dan mendorong pengakuan keterlibatan pada bagian dari semua.Kontraktor HSE Pengawas akan menyediakan dua modul diidentifikasi sebagai relevan untuk semua
personil di instruksi formal. Hal ini akan dilakukan di kamp utama setelah induksi awal dan
sebelum berangkat kerja untuk bidang untuk pertama kalinya. Sertifikat pelatihan akan diterbitkan dan direkam. petugas HSE Pelatihan. Mereka akan dibantu oleh personil HSE.
KOMITMEN DAN TANGGUNG JAWAB
Perusahaan harus menentukan, mendokumentasikan dan mengumumkan tanggung jawab, wewenang
dan juga akuntabilitas berkaitan yang diperlukan untuk menerapkan Sistem Manajemen HSE. Itu
dasar dari HSE-MS adalah kepemimpinan dan komitmen dari manajemen puncak
perusahaan, dan kesiapannya untuk menyediakan sumber daya yang memadai untuk peraturan HSE. pelatihan khusus
diberikan oleh Top Manajemen dalam menunjukkan komitmen nyata mereka, misalnya dengan:
Mengalokasikan sumber daya yang diperlukan, seperti waktu dan uang, pada HSE.
contoh personil dalam pekerjaan sehari-hari
Menjadi aktif dalam kegiatan HSE dan ulasan, di situs lokal maupun jarak jauh.
Mendorong karyawan untuk memberikan beberapa ide untuk perbaikan kinerja langkah.
Menampilkan personil khusus sebagai Safety Officer yang diusahakan sebagai:
Koordinator khusus dalam menerapkan Sistem Manajemen HSE dan lingkungan
pemeliharaan yang diterapkan untuk semua staf kantor serta pekerja situs. Menerapkan untuk pekerja lapangan
yang dimulai dari pengawas garis dan staf lapangan
Memiliki bertanggung jawab untuk mengontrol pelaksanaan di lapangan di setiap hari / minggu atau setiap bulan, dan
Kesehatan kerja dan kebersihan linkungan kerja akan dilakukan oleh setiap personel karyawan Kontraktor. Itu perilaku setiap karyawan harus berorientasi kepada kesehatan dan keselamatan kerja. Keselamatan Petugas akan bertanggung jawab untuk pelaksanaan kegiatan ini. Keselamatan kerja peralatan dan zat mudah terbakar / berbahaya harus dilakukan oleh setiap karyawan. Inspeksi dan audit harus dilakukan oleh Petugas Keselamatan sehingga tindakan perbaikan dapat dilakukan. Keamanan lingkungan dan kebersihan kerja menjadi tanggung jawab kami semua.
Memiliki tempat untuk membuang sampah serta organik atau non organik, sampah kering serta
sebagai sampah basah harus menjadi prioritas pertama.
Jika ada beberapa kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan, harus
bertanggung jawab sesuai prosedur.
IMPLEMENTASI HSE
HSE Implementasi dikomunikasikan kepada para pekerja dengan mempromosikan budaya kerja di
perusahaan yang akan mendukung kenerja HSE. Sistem Manajemen kinerja, di mana
Sistem Manajemen HSE dapat berfungsi secara efektif. Dalam meningkatkan Sistem Manajemen HSE
dengan menekan trust penciptaan budaya satu sama lain, dengan memberikan beberapa motivasi, dengan berpartisipasi dan berkomitmen:
Dalam meningkatkan Sistem Manajemen Perusahaan, HSE akan menumbuhkan keyakinan dengan kepercayaan pada satu sama lain, tidak berperilaku menyalahkan, sangat efektif untuk menerapkan Sistem Manajemen HSE ..
Berikan beberapa motivasi untuk meningkatkan kenerja HSE. Pertunjukan Manajemen Sistem dengan cara masing masing berdasarkan pada kesadaran dan pengertian, dan memberikan beberapa pengertian yang positif untuk menekankan perilaku yang diharapkan.
Partisipasi pekerja di setiap tingkat dengan melihat pendapat mereka bersama dengan keterlibatan mereka dalam mengembangkan Sistem Manajemen HSE, dan untuk memprovokasi masukan untuk usulan perbaikan. Komitmen dari pekerja di semua tingkatan sangat penting, sehingga Manajemen HSE, Sistem dapat secara efektif berfungsi, mulai dari tumbuh keyakinan, memberikan motivasi dan beberapa juga berpartisipasi aktif.
HSE Implementasi dikomunikasikan kepada para pekerja dengan mempromosikan budaya kerja di
perusahaan yang akan mendukung kenerja HSE. Sistem Manajemen kinerja, di mana
Sistem Manajemen HSE dapat berfungsi secara efektif. Dalam meningkatkan Sistem Manajemen HSE
dengan menekan trust penciptaan budaya satu sama lain, dengan memberikan beberapa motivasi, dengan berpartisipasi dan berkomitmen:
Dalam meningkatkan Sistem Manajemen Perusahaan, HSE akan menumbuhkan keyakinan dengan kepercayaan pada satu sama lain, tidak berperilaku menyalahkan, sangat efektif untuk menerapkan Sistem Manajemen HSE ..
Berikan beberapa motivasi untuk meningkatkan kenerja HSE. Pertunjukan Manajemen Sistem dengan cara masing masing berdasarkan pada kesadaran dan pengertian, dan memberikan beberapa pengertian yang positif untuk menekankan perilaku yang diharapkan.
Partisipasi pekerja di setiap tingkat dengan melihat pendapat mereka bersama dengan keterlibatan mereka dalam mengembangkan Sistem Manajemen HSE, dan untuk memprovokasi masukan untuk usulan perbaikan. Komitmen dari pekerja di semua tingkatan sangat penting, sehingga Manajemen HSE, Sistem dapat secara efektif berfungsi, mulai dari tumbuh keyakinan, memberikan motivasi dan beberapa juga berpartisipasi aktif.
PROSEDUR HSE
Perusahaan telah membuat dokumentasi Standard Operation Procedure (SOP) dan
Instruksi Kerja untuk setiap aspek kegiatan operasi.
MANAJEMEN BAHAYA DAN RISIKO
Proses manajemen bahaya dan risiko terdiri dari 4 (empat) langkah:
Sistematis identifikasi bahaya.
Evaluasi tingkat bahaya
Penerapan Pengendalian Keuangan.
Perencanaan untuk Restorasi.
Proses ini menggunakan garis pertanyaan dari setiap kegiatan yang telah dilakukan.
Data dari setiap baris aktivitas dapat menyatakan bahwa data tersebut telah dimuat semua kegiatan
yang terjadi / telah dilakukan dalam beberapa pekerjaan. Risiko dan manajemen bahaya dituangkan
secara rinci dalam Risiko Identifikasi Bahaya Dan Pengendalian Risiko (HIRARC).
RENCANA HSE
Untuk tahap perencanaan operasi bisa efektif, harus memperhatikan dirinya dengan pencegahan
insiden melalui penghapusan atau pengendalian bahaya dan mitigasi konsekuensi
harus berbahaya bahkan terjadi. Oleh karena itu, proses harus diikuti secara sistematis
mengidentifikasi dan menilai bahaya dan mengembangkan kontrol untuk mengelola mereka, yang tidak dapat dihilangkan.
Hal ini dapat dicapai dengan:
Menggunakan kebijakan perusahaan berkembang, standar dan prosedur
Melakukan kunjungan kepanduan untuk menilai situasi di lapangan.
Studi perundang-undangan dan kode disetujui mendukung praktek.
Sebuah analisis melalui dari operasi tertentu.
Sebuah studi kecelakaan, insiden dan data kesehatan yang buruk dari operasi sebelumnya.
1. Rencana operasi
Pengalaman menunjukkan bahwa kinerja HSE dapat dioptimalkan melalui perencanaan terstruktur
Proses, yang meliputi:
Komprehensif operasional pra-perencanaan HSE menggabungkan langkah-langkah untuk mengelola bahaya diidentifikasi.
Verifikasi standar peralatan keselamatan sebelum operasi start-up.
Memverifikasi bahwa Sistem Manajemen HSE yang efektif adalah di tempat sebelum start-up.
Sebuah manajemen HSE program pelatihan yang ditujukan untuk manajemen lini senior dan atasan langsung. Ini pelatihan akan mencakup topik-topik seperti Hazard Analysis Job, Audit Act aman, Pelatihan Keselamatan
Program observasi, manajemen limbah dan pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku.
Audit rutin dan inspeksi dari manajemen sesuai dengan jadwal yang direncanakan dan berfokus pada HSE
Manajemen.
HSE plan
Perencanaan yang efektif sangat penting untuk semua aspek bisnis, dengan rencana berdasarkan diketahui dan
meneliti informasi, dan beralasan asumsi. Sebuah rencana untuk perbaikan berkelanjutan yang terkandung
dalam rencana HSE ..
Sistem Manajemen HSE akan menetapkan target dan cara-cara untuk mendapatkan hal itu, untuk mengidentifikasi pihak
yang bertindak bersama dengan menentukan proses penampakan ..
Rencana HSE dikembangkan dari hal-hal seperti:
Persyaratan dibawa dari rencana tahun sebelumnya.
· Audit dan inspeksi temuan.
· Insiden temuan.
Kecelakaan investigasi temuan.
HSE Saran dari karyawan.
· Item tinjauan aksi Manajemen
HSE Target
Hal ini penting untuk menetapkan target HSE yang diterima oleh manajemen dan karyawan dicapai.
Biasanya, target progresif mengurangi diatur, yang dalam jangka panjang akan menyebabkan kecelakaan diri gratis.
kinerja. Target yang realistis hanya dapat ditetapkan setelah menilai ruang lingkup kerja untuk periode di bawah
meninjau dan mengalokasikan tugas untuk mengelola pekerjaan tersebut. Satu-satunya cara untuk mencapai target HSE adalah untuk mengelola efektif risiko yang mengancam prestasi. Efektif manajemen menuntut bahaya dan kontrol mereka harus, sejauh mungkin, akan dibahas dalam proses perencanaan. Laporan staf meliputi HSE terkait target atau tugas terhadap kinerja yang dapat diukur.
Ini harus mengalir turun dari departemen harus juga dituntut tanpa memberikan
individu alat untuk melakukan pekerjaan itu, seperti pelatihan dan peralatan yang tepat.
PROTEKSI PERALATAN PRIBADI (PPE)
Klien mastikan bahwa semua setiap APD yang diberikan dan atau digunakan akan:
Sesuai
Berkualitas baik
Dalam jumlah yang cukup
Persyaratan untuk peralatan pelindung tambahan terus dinilai oleh karyawan
dan garis supervisor. Semua APD sesuai dengan nasional diakui atau standar internasional dan
perusahaan menyimpan catatan standar saat ini. Standar saat ini digunakan untuk PPE adalah sebagai berikut:
· Baju
· Tangan Sarung tangan
· Keamanan Helm
· Keselamatan Goggles
· Pelindung Telinga (Ear Plugs)
· Sepatu Keselamatan
· Rain Coat
· Masker
· Life Jacket
· Kotak Pertolongan Pertama (P3K)
RAPAT KESELAMATAN
Ruang lingkup ini pertemuan keselamatan meliputi:
8.1. HSE Commite
Party Chief dan kepala Seksi akan mengadakan pertemuan HSE commitesetiap minggu untuk
tinjauan kru HSE kinerja dan merencanakan strategi lebih lanjut dalam rapat HSE.
8.2. Bagian HSE Rapat
Bagian HSE pertemuan akan diadakan sebulan sekali. Umumnya bagian pengawas kursi ini
pertemuan meskipun berputar kursi di antara anggota staf senior yang terlibat akan meningkatkan keselamatan
Keterlibatan. Bagian HSE rapat tersebut membahas bagian ma'ers terkait HSE dan menyampaikan
komentar dan informasi dari Bagian tersebut Kepala pertemuan.
Jika ada jumlah besar di bagian apapun mungkin perlu untuk memecah pertemuan ini menjadi
kecil kelompok.
8.3. Toolbox HSE Rapat / Toolbox Meeting HSE
Setiap unit kerja akan mengadakan pertemuan toolbox setiap hari. Pertemuan toolbox Selanjutnya akan diadakan
sebelum dimulainya setiap operasi yang tidak biasa atau setiap kali timbul masalah-masalah tertentu.
Rapat juga akan diadakan setelah insiden atau kecelakaan untuk menyebarkan informasi.
8.4. Keselamatan Induksi / Induksi K3LL
Mengetahui ruang lingkup pekerjaan dan gambar tentang hal-hal yang akan dilakukan dalam
lokasi, pekerja akan diberikan induksi keselamatan. Budaya ini telah dilakukan dalam setiap proyek
yang dimiliki oleh perusahaan. Induksi Keselamatan meliputi:
· Lingkup pekerjaan
· Persiapan kru
· Peralatan persiapan
· Metode kerja
· Pelaksanaan pekerjaan
8,5. Keselamatan Breifing
Sebelum para pekerja pergi dan bekerja di lokasi, briefing harus dilakukan pada awalnya. Laporan ini
bertujuan untuk mengetahui tentang persiapan pekerja untuk bekerja di lokasi. Bahan briefing
meliputi beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman oleh para pekerja dalam melakukan tugas-tugas mereka. Itu
materi yang akan diberikan dalam bentuk:
Prosedur Operasi Standar
Komunikasi
Personal Protection Equipment
Lingkungan
Dekat Miss
Menjaga rumah
Bahaya Potensi
Etc
8.6. Pemberitahuan Boards
Papan pengumuman akan digunakan untuk menyampaikan informasi di tingkat crew
PELATIHAN KESELAMATAN
Dalam rangka kemampuan pekerja dapat memperluas, untuk seluruh / pekerja semua, perusahaan melakukan beberapa pelatihan
Program. Dari program ini adalah pekerja dominasi untuk bekerja wilayah masing-masing akan selalu meningkat
Metode pelatihan
Pelatihan kesadaran akan disediakan oleh proses induksi seperti yang dijelaskan secara rinci dalam kru
prosedur akan diuraikan secara rinci pada pedoman prosedure kerja
Penyediaan informasi ini di lokasi yang berlaku dengan peralatan yang berlaku
ke tangan akan meningkatkan efektivitas dan meningkatkan retensi. Partisipasi dalam kegiatan seperti
(Sederhana) JSA adalah untuk meninjau prosedur selama dimulainya pekerjaan awal dari setiap unit akan
memberikan pemahaman yang berharga untuk proses dan mendorong pengakuan keterlibatan pada bagian dari semua.Kontraktor HSE Pengawas akan menyediakan dua modul diidentifikasi sebagai relevan untuk semua
personil di instruksi formal. Hal ini akan dilakukan di kamp utama setelah induksi awal dan
sebelum berangkat kerja untuk bidang untuk pertama kalinya. Sertifikat pelatihan akan diterbitkan dan direkam. petugas HSE Pelatihan. Mereka akan dibantu oleh personil HSE.
KEBIJAKAN HSE
Kebijakan HSE mewakili kesatuan dari MUTU KEBIJAKAN DAN HSE (Kualitas dan Kebijakan HSE) dari perusahaan. Kebijakan QHSE.
Secara obyektif, dalam melakukan beberapa kegiatan kerja, target yang kita inginkan adalah zero accident, zero cedera, dan nol dari masalah lingkungan. Ketiga item tersebut mewakili komitmen perusahaan
dalam melakukan setiap proyek. Untuk mendapatkan item tersebut tidaklah mudah, perlu beberapa sistem dan beberapa kerjasama yang baik antara pekerja dan manajemen.
Kebijakan pedoman kesehatan, keselamatan dan lingkungan
Ini adalah kebijakan dari Perusahaan untuk melakukan kegiatan mereka sedemikian rupa untuk mengambil terpenting asuransi kesehatan dan keselamatan karyawan mereka dan orang-orang lainnya, dan memberikan hal yang tepat untuk konservasi lingkungan. Mereka bertujuan untuk menjadi salah satu pemimpin di masing-masing dalam item ini. Kesehatan
Perusahaan berusaha untuk selalu melakukan kegiatan , seperti cek up kesehatan pada setiap personel, karyawan dan lain-lain, dan untuk mempromosikan, sesuai, kesehatan karyawan mereka.
pada prosedur Keselamatan kerja. Yang terkait dengan kegiatan mereka tinggi resiko kecelakaan, mempromosikan standar kesadaran keselamatan dan disiplin
Prinsip ini menuntut perusahaan akan:
Menghambat dalam operasi mereka pengurangan progresif emisi, limbah dan pembuangan limbah
bahan yang dikenal memiliki dampak negatif terhadap lingkungan, dengan tujuan utama
menghilangkan mereka.
Bertujuan untuk menyediakan produk dan layanan yang didukung dengan saran praktis yang, bila digunakan dalam
Sesuai dengan saran, tidak akan menyebabkan cedera atau efek pada lingkungan.
Mempromosikan perlindungan lingkungan yang dapat dipengaruhi oleh perkembangan kegiatan mereka dan
berusaha terus peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya alam dan energi.
1.2 Umum HSE aspek
perusahaan akan:
Menilai kesehatan, aspek keamanan lingkungan sebelum memasuki kegiatan baru dan menilai kembali mereka
memetikan perubahan signifikan dalam keadaan
Mengharuskan kontraktor yang bekerja atas nama mereka untuk menerapkan kesehatan, keselamatan dan standar lingkungan
sepenuhnya kompatibel.
Mengembangkan dan prosedur darurat, bekerjasama dengan pihak berwenang dan layanan darurat, di
memesan untuk meminimalkan bahaya dari kecelakaan.
Pengembangan peraturan baik dan standar industri yang berkaitan dengan kesehatan, keselamatan dan keamanan lingkungan.
Melakukan atau mendukung penelitian terhadap peningkatan aspek kesehatan, keselamatan dan lingkungan
produk mereka, proses dan operasi
Selanjutnya, untuk mencapai tujuan obyektif, dirumuskan pada Dasar "PERATURAN Keselamatan
Kerja.
Secara obyektif, dalam melakukan beberapa kegiatan kerja, target yang kita inginkan adalah zero accident, zero cedera, dan nol dari masalah lingkungan. Ketiga item tersebut mewakili komitmen perusahaan
dalam melakukan setiap proyek. Untuk mendapatkan item tersebut tidaklah mudah, perlu beberapa sistem dan beberapa kerjasama yang baik antara pekerja dan manajemen.
Kebijakan pedoman kesehatan, keselamatan dan lingkungan
Ini adalah kebijakan dari Perusahaan untuk melakukan kegiatan mereka sedemikian rupa untuk mengambil terpenting asuransi kesehatan dan keselamatan karyawan mereka dan orang-orang lainnya, dan memberikan hal yang tepat untuk konservasi lingkungan. Mereka bertujuan untuk menjadi salah satu pemimpin di masing-masing dalam item ini. Kesehatan
Perusahaan berusaha untuk selalu melakukan kegiatan , seperti cek up kesehatan pada setiap personel, karyawan dan lain-lain, dan untuk mempromosikan, sesuai, kesehatan karyawan mereka.
pada prosedur Keselamatan kerja. Yang terkait dengan kegiatan mereka tinggi resiko kecelakaan, mempromosikan standar kesadaran keselamatan dan disiplin
Prinsip ini menuntut perusahaan akan:
Menghambat dalam operasi mereka pengurangan progresif emisi, limbah dan pembuangan limbah
bahan yang dikenal memiliki dampak negatif terhadap lingkungan, dengan tujuan utama
menghilangkan mereka.
Bertujuan untuk menyediakan produk dan layanan yang didukung dengan saran praktis yang, bila digunakan dalam
Sesuai dengan saran, tidak akan menyebabkan cedera atau efek pada lingkungan.
Mempromosikan perlindungan lingkungan yang dapat dipengaruhi oleh perkembangan kegiatan mereka dan
berusaha terus peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya alam dan energi.
1.2 Umum HSE aspek
perusahaan akan:
Menilai kesehatan, aspek keamanan lingkungan sebelum memasuki kegiatan baru dan menilai kembali mereka
memetikan perubahan signifikan dalam keadaan
Mengharuskan kontraktor yang bekerja atas nama mereka untuk menerapkan kesehatan, keselamatan dan standar lingkungan
sepenuhnya kompatibel.
Mengembangkan dan prosedur darurat, bekerjasama dengan pihak berwenang dan layanan darurat, di
memesan untuk meminimalkan bahaya dari kecelakaan.
Pengembangan peraturan baik dan standar industri yang berkaitan dengan kesehatan, keselamatan dan keamanan lingkungan.
Melakukan atau mendukung penelitian terhadap peningkatan aspek kesehatan, keselamatan dan lingkungan
produk mereka, proses dan operasi
Selanjutnya, untuk mencapai tujuan obyektif, dirumuskan pada Dasar "PERATURAN Keselamatan
Kerja.
KOMITMEN DAN TANGGUNG JAWAB
Perusahaan harus menentukan, mendokumentasikan dan mengumumkan tanggung jawab, wewenang
dan juga akuntabilitas berkaitan yang diperlukan untuk menerapkan Sistem Manajemen HSE. Itu
dasar dari HSE-MS adalah kepemimpinan dan komitmen dari manajemen puncak
perusahaan, dan kesiapannya untuk menyediakan sumber daya yang memadai untuk peraturan HSE. pelatihan khusus
diberikan oleh Top Manajemen dalam menunjukkan komitmen nyata mereka, misalnya dengan:
Mengalokasikan sumber daya yang diperlukan, seperti waktu dan uang, pada HSE.
contoh personil dalam pekerjaan sehari-hari
Menjadi aktif dalam kegiatan HSE dan ulasan, di situs lokal maupun jarak jauh.
Mendorong karyawan untuk memberikan beberapa ide untuk perbaikan kinerja langkah.
Menampilkan personil khusus sebagai Safety Officer yang diusahakan sebagai:
Koordinator khusus dalam menerapkan Sistem Manajemen HSE dan lingkungan
pemeliharaan yang diterapkan untuk semua staf kantor serta pekerja situs. Menerapkan untuk pekerja lapangan
yang dimulai dari pengawas garis dan staf lapangan
Memiliki bertanggung jawab untuk mengontrol pelaksanaan di lapangan di setiap hari / minggu atau setiap bulan, dan
juga memberikan beberapa petunjuk kepada seluruh karyawan lapangan dari pengawas sampai helper.
Sunday, November 26, 2017
Monday, June 5, 2017
Geologi
GEOLOGI
Geologi selalu dalam aspek orientasi proses. Bagaimana batuan reservoir itu terbentuk? Apakah itu terbentuk dari pasir yang ada di pantai, atau channel bar yang ada di sungai, atau dari submarine slide deposit? Bagaimana magma bisa sampai ke permukaan melewati kerak bumi dan menghasilkan gunungapi? Kenapa erupsi gunungapi dan gempa bumi terjadi berulang kali di beberapa daerah sedangkan di daerah lain tidak? Banyak pertanyaan-pertanyaan tentang peristiwa geologi yang terjadi di planet kita ini, dan ahli geologi harus open mind dan memiliki keinginan untuk mencari tahu jawaban yang masuk akal.
Geologi
adalah ilmu yang baru, ilmu ini dikenal sejak beberapa ratus tahun yang lalu.
Geologi adalah dimana ilmu-ilmu lain (seperti: kimia, fisika, biologi, dll)
terintegrasi untuk dapat menggambarkan, menjelaskan, dan memahami proses, sifat
fisik dan material pembentuk bumi. Geologi adalah dimana fantasi dan sekumpulan
fakta bertemu dalam satu ruang kreatifitas. Geology is where time goes wild !!!
Geologi memiliki
sejumlah disiplin ilmu yang saling berhubungan erat seperti; Geomorfologi,
Petrologi, Sedimentologi, Geologi Struktur, Tektonika, Geologi Sejarah,
Paleontologi, Geofisika, Endapan Mineral, dan Geologi Minyak Bumi. Misalnya,
Geologi Minyak Bumi pasti akan melibatkan, diantaranya: survey seismik
(Geofisika), interpretasi struktur (Geologi Struktur), sedimentological
understanding (Sedimentologi), paleontological dating (Paleontologi), dll.
Ada yang
beranggapan bahwa geologi sangat tidak akurat atau tidak saintifik. Alasannya
adalah sistem alam dari bumi kita yang sangat kompleks. Setiap batuan, oilfield
reservoir atau ore body itu terbentuk dari interaksi antara proses dan
mekanisme geologi yang 'unique' dan sangat sulit untuk diprediksi secara detail.
Sebagai contoh, geologi dapat memprediksi wilayah yang rawan gempa bumi,
letusan gunungapi, atau longsoran batuan yang diperkiran akan terjadi 100 tahun
mendatang atau lebih, tapi tidak tahu persis kapan dan bahkan tidak tahu persis
dimana itu akan terjadi.
Geologi selalu dalam aspek orientasi proses. Bagaimana batuan reservoir itu terbentuk? Apakah itu terbentuk dari pasir yang ada di pantai, atau channel bar yang ada di sungai, atau dari submarine slide deposit? Bagaimana magma bisa sampai ke permukaan melewati kerak bumi dan menghasilkan gunungapi? Kenapa erupsi gunungapi dan gempa bumi terjadi berulang kali di beberapa daerah sedangkan di daerah lain tidak? Banyak pertanyaan-pertanyaan tentang peristiwa geologi yang terjadi di planet kita ini, dan ahli geologi harus open mind dan memiliki keinginan untuk mencari tahu jawaban yang masuk akal.
How do Geologists work?
Ahli geologi
bekerja melalui penelitian lapangan, melibatkan penggunaan palu, lensa, pita
ukur, kompas, GPS dan lainnya. Tujuannya untuk memetakan satuan batuan di
lapangan, menghasilkan peta geologi yang menunjukkan distribusi, orientasi dan
struktur dari berbagai jenis batuan di suatu daerah. Geologist biasanya
mengambil sample batuan di lapangan dan membawanya ke laboratorium untuk
selanjutnya dilakukan pengukuran dan analisis. Ahli geologi juga menggunakan
data-data geofisika (seperti; seismik, magnetik, gravimetrik, citra satelit,
degital elevation models (DEM), dan foto udara) untuk mendapatkan informasi
batuan dan struktur geologi.
Dibawah ini tulisan Professor Koesoemadinata tentang bagaimana sejarah awal
pendidikan geologi ini muncul di Indonesia. Perjuangan tokoh-tokohnya tidak kalah
penting dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia itu sendiri. Tulisan ini pernah dimuat di Berita IAGI.
Awal Pendidikan Geologi di Indonesia
Lain dengan pendidikan kedokteran, hukum, pertanian dan teknik yang telah
dimulai pada awal abad ke-20, pendidikan geologi sangat terabaikan oleh
pemerintah kolonial Belanda. Pendidikan geologi untuk orang Indonesia terbata
tingkatan “mantri opnemer” atau surveyor/juru ukur saja. Untuk kebutuhan
tenaga ahli geologi dan insinyur pertambangan pemerintahan colonial Belanda
mengandalkan lulusan universitas dan sekolah tinggi teknik dari Belanda da
negara Europa lainnya.
Keadaan berubah setelah dimulainya Perang Dunia ke II pada tahun 1938 terutam setelah Tentara Jerman menginvasi negeri Belanda, sehingga hubungan terputus. Maka mulailah Pemerintah Kolonial Belanda pada tgl 10 Mei 1938 melalui mendirikan suatu lembaga pendidikan darurat yang dinamakan “Assistent Kursus” (Kursus untuk Asisten Geolog, mungkin sekarang setara dengan D-3) yang berlangsung 3 tahun.
Keadaan berubah setelah dimulainya Perang Dunia ke II pada tahun 1938 terutam setelah Tentara Jerman menginvasi negeri Belanda, sehingga hubungan terputus. Maka mulailah Pemerintah Kolonial Belanda pada tgl 10 Mei 1938 melalui mendirikan suatu lembaga pendidikan darurat yang dinamakan “Assistent Kursus” (Kursus untuk Asisten Geolog, mungkin sekarang setara dengan D-3) yang berlangsung 3 tahun.
Pendidikan
ini dilaksanakan oleh Dienst van het Mijnbouws (Dinas
Pertambangan) di Jl Diponegoro 58 Bandung, dengan para ahli geologi daninsinyur
pertambangan yang bekerja pada instansi tersebut sebagai pardosennya, antara
lain Van Bemmelen. Pendidikan ini diikuti pada umumnya orang-orang Belanda, dan
hanya ada 2 orang Indonesia yang mengikutnya sampai selesai yaitu F. Lasut dan Sunu Sumosusastro.
Persyaratan mengikuti pendidikan itu adalah lulus sekolah menengah atas, yaitu
HBS (Hogere Burgerschool, khusus untuk orang Belanda) atau
AMS B ( Algemeene Middlebare School , opsi B/IPA, terutama
untuk orang pribumi/Indonesia). Kursus ini hanya berlangsung 1 angkatan saja (3
tahun) karena Tentara Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942.
Maka kedua
orang inilah sebetulnya merupakan ahli geologi Indonesia pertama dan boleh
dikatakan juga pionir dalam pendidikan geologi.
Semasa
pendudukan Jepang pada ahli geologi dan insinjur pertambangan Belanda masih
dipekerjakan oleh penguasa Jepang, khususnya untuk menterjemahkan laporan2
geologi ke dalam bahasa Inggris, namun Van Bemmelen masih sempat supervisi
pekerjaan geologi lapangan yang dilaksanakan F. Lasut mengenai endapan jarosit
di Ciater, Lembang di Utara Bandung. Selain itu juga masih ada geolog orang
Swiss (waktu itu negara netral dalam kecamuk perang dunia ke II) yang masih
bekerja pada Dinas Pertambangan di Bandung itu. Jadi pada waktu pendudukan
Jepang ini A. F. Lasut dan Sunu Sumosusastro adalah merupakan staf orang
Indonesia di Dinas Pertambangan di Bandung, dan memegang pimpinan dalam
pengambil-alihan instansi ini pada waktu Jepang bertekuk-lutut dan terjadi
proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945.
Mereka
inilah yang berhasil menyelamatkan arsip dan buku2 geologi ke Jl Braga di
Bandung Selatan, karena kantor Dinas Pertambangan di Jl. Diponegoro yang berada
di Bandung Utara diduduki tentara Inggris/Belanda, kemudian dipindahkan secara
berangsur ke Ciwidey, Tasikmalaya ke Magelang dan akhirnya ke Jogya sejalan
dengan mundurnya tentara RI. Di antara arsip dan buku2 ini tidak termasuk
manuskrip buku the Geology of Indonesia hasil karya van Bemmelen itu, yang
merupakan cerita lain.
Pada waktu
para ahli geologi dan insinyur pertambangan Belanda harus masuk kamp interniran (kompleks tahanan perang), Van
Bemmelen menitipkan naskah serta buku-bukunya itu pada orang yang sangat
dipercayainya, seorang hoofd mantri opzichter (mantri ukur kepala) yaitu
Djatikusumo untuk diselamatkan. Pada waktu Van Bemmelen yang telah dibebaskan
dari tahanan meminta kembali titipannya ini, yang bersangkutan menolak dengan
alasan sebagai seorang pejuang kemerdekaan ingin menyelamatkan arsip ini untuk
kepentingan bangsa Indonesia , dan kemudian membawanya ke tempat asalnya yaitu
Malang . Namun kemudian manuskrip dan arsip/buku lainnya dia serahkan ke Dinas
Pertambangan yang sudah mengungsi ke Magelang dan kemudian ke Jogyakarta.
Pada waktu
pemerintahan RI mengungsi ke Jogyakarta, maka dibentuk pula suatu Pusat Jawatan
Geologi dan Pertambangan dibawah naungan Departement Kemakmuran di Magerang,
yang dipimpin oleh A.F. Lasut (sebagai
kepala) dan (Sunu Sumosusastro sebagai wakilnya). Selain itu juga didirikan
beberapa sekolah untuk mendidik tenaga geologi dan pertambangan secara darurat
pada Nopember 1946 yaitu:
- Sekolah Geologi Pertambangan Pertama (SGPP, untuk pendidikan juruukur geologi
- Sekolah Geologi Pertambangan Menengah (SGPM, untuk pendidikan juruukur geologi penilik)
- SekolahGeologi Pertambangan Tinggi (SGPT), untuk pendidikan asisten geologi, dengan dosennya antara lain Sunu Sumosusastro (kepala sekolah) dan A.F. Lasut. N Lembaga pendidikan ini kemudian pindah ke Jogyakarta, dan nama SGPT berubah menjadi Akademi Geologi dan Pertambangan (AGP).
Pada
serangan agresi Belanda ke Jogya pada tahun 1948, A.F. Lasut selaku Kepala
Jawatan Tambang dan Geologi diambil tentara Belanda dari rumahnya dan kemudian
ditembak dipinggir jalan pada 7 Mei 1949 sebagai seorang pejuang kemerdekaan.
Lembaga pendidikan ini berakhir dengan ujian akhir pada akhir tahun 1949
sehingga berlangsung hanya 1 angkatan saja. Di antara para lulusan pendidikan
yang pertama dan terakhir ini adalah: M.M. Purbohadiwidjo, Djajadi Hadikusumo
(kemudian pendiri IAGI), Harli Sumadiredja, R. Prajitno (Ketua IAGI yang ke-2),
Surjo Ismangun, G.M Mohamad Slamet Padmokesumo, Mohamad Jasin Rachmat dan
Sanjoto Soeseno dan Sumardi Umar katab.
Sementara
itu Bp Suroso, seorang ahli geologi praktek (autodidak) ex pegawai explorasi
Shell/BPM juga mendirikan Sekolah Menengah Geologi di Jogyakarta. Yang akhirnya
menjadi Jurusan Tehnik Geologi Universitas Gadjah Mada.
Dan seperti itulah sejarah pendidikan geologi di Indonesia. Sudah terdapat
19 Univesitas yang menyediakan jurusan geologi, mungkin masih akan terus
berkembang karena kebutuhan ahli geologi di tingkat kabupaten suatu saat nanti
adalah sebuah keharusan karena untuk mengatur serta mengetahui kondisi geologi
kabupaten masing-masing. Mengerti sumberdaya alamnya, sifat dan gejala
kebencanaan, serta kebutuhan pemeliharaan lingkungan (Ekstraksi, Mitigasi, dan
Konservasi).
Subscribe to:
Posts (Atom)















































